Anda yang membangun karismanya akan mendapatkan banyak kemudahan dalam mengatasi tantangan-tantangan hidup. Ketekunan membangunnya (karisma) pasti membuat Anda menjadi magnet yang kuat, terutama untuk meraih perhatian dan kekuatan massa.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Membangun Karisma
Oleh: Andrew Ho
"Charisma is a sparkle in people that money can't buy. It's an invisible energy with visible effects. – Karisma adalah cahaya seseorang yang tak ternilai dengan materi. Karisma adalah energi yang tak terlihat tetapi memberi dampak nyata."
Marianne Williamson aktifis spiritual, penulis, dosen dan pendiri The Peace Alliance di Amerika Serikat.
Pasti kita pernah mendengar istilah orang yang penuh karisma, yaitu orang yang memiliki daya tarik luar biasa. Aura kehadiran maupun kata-katanya begitu berpengaruh dan menarik. Orang-orang berkarisma itu ada di berbagai bidang, contohnya Soekarno (politik), Dalai Lama (spiritual), Bunda Theresia (spiritual & kemanusiaan), Warren Buffet (bisnis), Leonardo Da Vinci (seni dan budaya), dan masih banyak lagi.
Orang yang berkarisma seperti itu mampu menjadi pusat perhatian yang begitu dikagumi banyak orang, padahal penampilan mereka tak berbeda dengan kebanyakan orang. Ada sebagian orang mengatakan bahwa karisma itu merupakan bakat alamiah. Namun sebenarnya siapapun dapat membangun karisma, yaitu dengan memperbarui beberapa hal diantaranya adalah moral dan spiritual, kesan keseluruhan postur tubuh, sorot mata, kepercayaan diri, kemampuan dan kematangan sikap. Beberapa langkah berikut ini akan dapat membantu Anda membangun karisma.
Pertama adalah memiliki visi dan misi yang jelas dan berjuang keras mewujudkannya. Lihat saja pemimpin besar seperti Soekarno memiliki visi yang jelas & betul-betul memperjuangkan kemerdekaan RI. Lalu Martin Luther King, Jr., yang mempunyai impian tentang masa depan Amerika sehingga rakyat Amerika mendukung dia sepenuhnya, begitu pula dengan John F. Kennedy.
Visi menjadikan seseorang memiliki daya tarik, sebab kejelasan visi mampu mengisi kekosongan atau harapan orang lain. Selain itu, visi juga dapat mengarahkan seseorang melakukan tindakan-tindakan konstruktif dan nyata. Niccolo Machiavelli mengatakan, "Make no small plans, for they have no power to stir the soul. – Mereka tidak akan memiliki kekuatan untuk mengarahkan jiwa mereka jika tidak memiliki sedikitpun perencanaan."
Bila saya perhatikan mayoritas orang-orang yang karismatik memiliki visi yang besar dan mulia. Untuk memperjuangkan visi tersebut mereka sangat menghargai waktu, kehidupan dan diri mereka sendiri serta memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk menjadikan dunia lebih baik. Intergritas dan kepercayaan diri mereka juga luar biasa dalam upaya mewujudkan visi mereka.
Langkah lain yang perlu ditempuh untuk menumbuhkan karisma adalah memupuk rasa percaya diri. Rasa percaya diri nampak dari postur, sorot mata dan sikap yang baik dan alamiah. Kepercayaan diri yang tinggi juga tercermin dari kalimat-kalimat yang penuh optimisme, positif dan memotivasi. Kalimat-kalimat seperti itu juga terdengar lebih menarik. Jika Andatekun mengembangkan kemampuan tersebut, pasti Anda akan terlihat menonjol dibandingkan yang lain.
Yang ketiga adalah menghargai orang lain atau berusaha menjadikan orang lain merasa berarti. Misalnya dengan meluangkan waktu untuk menyapa dan berusaha mengerti apa yang dirasakan orang lain. Termasuk diantaranya adalah menunjukkan empati yang tulus, sehingga terbangun interaksi positif dengan orang lain sebanyak mungkin.
Orang terlihat lebih karismatik ketika ia tidak mementingkan diri sendiri, keluarga maupun golongan. Karismanya terpancar dari sikap yang setia dan tulus dalam melayani serta kesediaannya maju di depan justru ketika situasi genting dan benar-benar membuntutkan seorang pemimpin. Mereka menjadi karismatik karena memberi harapan di tengah keputusasaan dan bersedia menjadi penerang dalam kegelapan.
Seseorang menjadi karismatik bukan dikarenakan pandai mendeskripsikan sosok ideal melalui kata-kata, melainkan menampilkan sosok ideal dalam setiap perbuatannya sehari-hari. Aura karismatik seseorang terpancar dari teladan sikapnya yang positif, misalnya ketekunannya berusaha, kejujuran, komitmennya menegakkan kebenaran, dan kasih sayangnya kepada orang lain. Jika Anda selalu berusaha memperlihatkan teladan sikap positif, pasti Anda juga bisa menarik banyak perhatian dan dukungan banyak orang.
Selain itu berusahalah untuk selalu bersyukur dan meningkatkan kekuatan spiritual. Seseorang yang memiliki keteduhan iman dan selalu bersyukur lebih mudah mengontrol sikap atau perbuatannya, sehingga cenderung mampu bersikap menyenangkan. Penampilan sosok yang memiliki keteduhan iman, syukur dan rendah hati pasti terlihat lebih menarik bagi orang lain.
Meningkatkan ilmu pengetahuan dan berlatih berpikir kreatif merupakan langkah lain untuk terlihat menarik. Beberapa orang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu seksi. Berusahalah untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan lambat laun pasti membuat Anda menjadi lebih karismatik.
Humor dan senyum merupakan 2 hal penting untuk meningkatkan karisma dan mempererat hubungan sosial. Senyuman dan humor dapat menghancurkan kebekuan sehingga suasana menjadi lebih akrab dan menyenangkan. Semua orang menyukai orang yang dapat membuat mereka tertawa. Agar Anda lebih berkarisma, pelajarilah cara menciptakan humor dan gunakan sesering mungkin pada situasi yang tepat.
Berusaha memperbaiki kekurangan dan berpenampilan menarik merupakan langkah penting agar lebih berkarisma. Untuk menjaga penampilan tetap menarik tak harus berpakaian serba mahal dan bermerek terkenal, walaupun sederhana asalkan rapi, bersih dan sopan. Menghormati diri sendiri dengan menjaga penampilan sama halnya Anda membantu orang lain menghargai Anda.
Seseorang yang berkarisma berpotensi menjadi pemimpin ideal. Penulis "The Purpose-Driven Life" Rick Warren merumuskan seorang pemimpin ideal adalah mereka yang memiliki kepedulian dan belas kasih pada orang lain, terus membangun kekuatan spiritual, intelektual, dan moralitas sikapnya. Rick Warren juga memaparkan bahwa seorang pemimpin karismatik juga mampu fokus pada persoalan kritis dan tidak sibuk dengan masalah-masalah sekunder, memiliki integritas serta berani melaksanakan solusi terbaik walaupun tidak populer. Semua kualitas pemimpin ideal tersebut pasti Anda miliki jika Anda serius dan aktif membangun karisma.
Bila Anda tertarik untuk menumbuhkan karisma, lakukan beberapa hal yang telah saya uraikan di atas. Ketekunan membangunnya (karisma) pasti membuat Anda menjadi magnet yang kuat, terutama untuk meraih perhatian dan kekuatan massa. Yang terpenting bahwasanya siapapun yang membangun karismanya akan mendapatkan banyak kemudahan dalam mengatasi tantangan-tantangan hidup.
* Andrew Ho
Minggu, 02 Januari 2011
Ledakkan potensi Anda
Ledakkan potensi Anda. Keep trying, keep doing!
Belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat. Kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Bakat vs Usaha
Oleh: Agung Praptapa *
"Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan."
Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak mampu melakukan hal tertentu karena mereka tidak berbakat. Kata "tidak berbakat" nampaknya menjadi kambing hitam yang paling mudah. "Jangan salahkan aku kalau aku tidak mampu melakukan hal tertentu karena aku tidak berbakat" demikian kurang lebih pesan yang terkandung dalam pernyataan mereka.
Namun pada saat saya tanyakan kepada yang merasa "tidak berbakat" mengenai sudah seberapa jauh mereka belajar, berlatih dan mencoba, mereka mulai mencari-cari alasan berikutnya. Mereka katakan bahwa walaupun belum mencobanya tetapi mereka tahu dan bisa merasakan kalau mereka tidak berbakat. "Seperti ejakulasi dini saja, belum apa-apa sudah loyo" demikian saya sering meledek mereka-mereka yang terlampau cepat memvonis dirinya tidak mampu karena tidak berbakat.
Berkaitan dengan masalah bakat, dalam suatu kesempatan pelatihan kepemimpinan saya memulai dengan pertanyaan "Apakah Anda percaya bahwa para pemimpin besar memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin? Atau Anda lebih percaya bahwa para pemimpin besar ditempa dalam perjalanan hidupnya sehingga menjadilah ia seorang pemimpin?" Jawaban yang aman memang ke dua-duanya bisa. Bisa saja kita menjawab dengan enteng bahwa ada seorang pemimpin yang memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dan ada yang menjadi pemimpin karena dibentuk oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungannya sehingga seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun bukan sekedar jawaban tentunya yang kita cari. Kita ingin mendapatkan jawaban yang memiliki landasan pemikiran yang kuat, yang based on evidence, yang berdasarkan bukti! Bisakah kita membuktikan bahwa seseorang memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin? Apa buktinya pemimpin itu ditempa dan dibentuk?
Banyak keturunan pemimpin juga menjadi pemimpin. Kalau kita mendengar nama Kennedy, asosiasi kita langsung ke keluarga Kennedy di Amerika Serikat yang turun menurun menjadi pemimpin. Ada George Bush kemudian munculah George W. Bush. Ada Mahatma Gandhi kemudian muncul Indira Gandhi. Ada Sukarno dan kemudian muncullah Megawati Sukarno Putri. Jadi nampaknya di sini sifat-sifat kepemimpinan bisa diturunkan sehingga seorang pemimpin bisa melahirkan pemimpin berikutnya. Benarkah sifat-sifat kempemimpinan bisa diturunkan secara biologis?
Saya tidak akan memperdebatkan masalah ini dari aspek genetika karena memang hal tersebut bukan dalam bidang keahlian saya. Namun demikian saya yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi sendiri-sendiri. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang sama persis. Meskipun seorang manusia dilahirkan seperti halnya kertas putih bersih yang belum tercoret, mereka dianugrahi potensi yang berbeda antara satu dengan lain. Saya termasuk yang tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Oleh karenanya saya katakan berulang kali bahwa manusia memiliki potensi yang unik antara satu orang dengan lainnya.
Seorang anak yang lahir dari pasangan yang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki potensi kecerdasan seperti halnya orang tuanya. Ini logika yang wajar saja. Buah akan akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau bakat dan sifat orang tuanya menurun kepada anaknya itu tentunya sudah sewajarnya. Namun ingat, yang diturunkan kepada anaknya masih bersifat potensi. Potensi itu akan tetap diam tidak akan menjadi realitas kalau tidak diwujudkan dalam tindakan. Seorang anak yang berpotensi menjadi pelari cepat tidak akan menjadi pelari cepat kalau ia tidak mencoba berlari. Seorang anak yang memiliki potensi memimpin tidak akan pernah benar-benar menjadi pemimpin kalau tidak melakukan tindakan sebagai seorang pemimpin. Seorang anak yang memiliki bakat menulis tidak akan pernah menjadi penulis apabila ia tidak menulis. Potensi yang mereka miliki bukan apa-apa apabila tidak diwujudkan dalam suatu tindakan. Sebuah senapan tidak akan meletus apabila tidak ditarik pelatuknya. Kalau demikian, dari pada meributkan seorang pemimpin itu dilahirkan atau tidak lebih baik kita langsung saja mengambil tindakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini lebih efektif dari pada kita disibukkan untuk memikirkan apakah kita berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak.
Kalau kita bicara tentang bakat, harus diakui bahwa orang yang memilki bakat tertentu akan belajar lebih cepat dari pada yang kurang berbakat. Seseorang yang memiliki bakat seni musik akan lebih cepat belajar musik dari pada yang tidak atau kurang berbakat dalam hal seni. Namun perlu dicatat di sini bahwa orang yang berbakat seni tetapi tidak mau belajar seni tidak akan memiliki kemampuan seni. Mengapa? Karena bakat itu hanya berupa potensi. Kalau potensi tersebut tidak diledakkan ya akan tetap menjadi potensi saja. Tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan. Dengan kata lain, seorang yang tidak memiliki bakat musik tetap bisa memiliki kemampuan di bidang musik apabila mereka mau belajar. Konotasi belajar di sini tidak berarti belajar dalam arti formal maupun informal, tetapi juga belajar dalam arti mencoba melakukan (experiental learning). Maka jangan pernah memvonis diri sendiri tidak berbakat dalam suatu bidang tertentu sebelum mencobanya. Sampai di sini kita masih memiliki kesimpulan yang sama bahwa seberapa besarpun bakat kita tidak akan menjadi kemampuan yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mencobanya. Dengan kata lain, dari pada sibuk memikirkan bakat kita lebih baik kita sibuk melatih diri kita untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan.
Saat kita merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan sesuatu, hal tersebut bukan selalu karena bakat. Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba. Dengan demikian, kalau kita belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat saja.
Mau memiliki kemampuan yang hebat? Keep trying, keep doing! Ledakkan potensi Anda.
*) Agung Praptapa
Belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat. Kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Bakat vs Usaha
Oleh: Agung Praptapa *
"Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan."
Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak mampu melakukan hal tertentu karena mereka tidak berbakat. Kata "tidak berbakat" nampaknya menjadi kambing hitam yang paling mudah. "Jangan salahkan aku kalau aku tidak mampu melakukan hal tertentu karena aku tidak berbakat" demikian kurang lebih pesan yang terkandung dalam pernyataan mereka.
Namun pada saat saya tanyakan kepada yang merasa "tidak berbakat" mengenai sudah seberapa jauh mereka belajar, berlatih dan mencoba, mereka mulai mencari-cari alasan berikutnya. Mereka katakan bahwa walaupun belum mencobanya tetapi mereka tahu dan bisa merasakan kalau mereka tidak berbakat. "Seperti ejakulasi dini saja, belum apa-apa sudah loyo" demikian saya sering meledek mereka-mereka yang terlampau cepat memvonis dirinya tidak mampu karena tidak berbakat.
Berkaitan dengan masalah bakat, dalam suatu kesempatan pelatihan kepemimpinan saya memulai dengan pertanyaan "Apakah Anda percaya bahwa para pemimpin besar memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin? Atau Anda lebih percaya bahwa para pemimpin besar ditempa dalam perjalanan hidupnya sehingga menjadilah ia seorang pemimpin?" Jawaban yang aman memang ke dua-duanya bisa. Bisa saja kita menjawab dengan enteng bahwa ada seorang pemimpin yang memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dan ada yang menjadi pemimpin karena dibentuk oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungannya sehingga seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun bukan sekedar jawaban tentunya yang kita cari. Kita ingin mendapatkan jawaban yang memiliki landasan pemikiran yang kuat, yang based on evidence, yang berdasarkan bukti! Bisakah kita membuktikan bahwa seseorang memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin? Apa buktinya pemimpin itu ditempa dan dibentuk?
Banyak keturunan pemimpin juga menjadi pemimpin. Kalau kita mendengar nama Kennedy, asosiasi kita langsung ke keluarga Kennedy di Amerika Serikat yang turun menurun menjadi pemimpin. Ada George Bush kemudian munculah George W. Bush. Ada Mahatma Gandhi kemudian muncul Indira Gandhi. Ada Sukarno dan kemudian muncullah Megawati Sukarno Putri. Jadi nampaknya di sini sifat-sifat kepemimpinan bisa diturunkan sehingga seorang pemimpin bisa melahirkan pemimpin berikutnya. Benarkah sifat-sifat kempemimpinan bisa diturunkan secara biologis?
Saya tidak akan memperdebatkan masalah ini dari aspek genetika karena memang hal tersebut bukan dalam bidang keahlian saya. Namun demikian saya yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi sendiri-sendiri. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang sama persis. Meskipun seorang manusia dilahirkan seperti halnya kertas putih bersih yang belum tercoret, mereka dianugrahi potensi yang berbeda antara satu dengan lain. Saya termasuk yang tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Oleh karenanya saya katakan berulang kali bahwa manusia memiliki potensi yang unik antara satu orang dengan lainnya.
Seorang anak yang lahir dari pasangan yang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki potensi kecerdasan seperti halnya orang tuanya. Ini logika yang wajar saja. Buah akan akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau bakat dan sifat orang tuanya menurun kepada anaknya itu tentunya sudah sewajarnya. Namun ingat, yang diturunkan kepada anaknya masih bersifat potensi. Potensi itu akan tetap diam tidak akan menjadi realitas kalau tidak diwujudkan dalam tindakan. Seorang anak yang berpotensi menjadi pelari cepat tidak akan menjadi pelari cepat kalau ia tidak mencoba berlari. Seorang anak yang memiliki potensi memimpin tidak akan pernah benar-benar menjadi pemimpin kalau tidak melakukan tindakan sebagai seorang pemimpin. Seorang anak yang memiliki bakat menulis tidak akan pernah menjadi penulis apabila ia tidak menulis. Potensi yang mereka miliki bukan apa-apa apabila tidak diwujudkan dalam suatu tindakan. Sebuah senapan tidak akan meletus apabila tidak ditarik pelatuknya. Kalau demikian, dari pada meributkan seorang pemimpin itu dilahirkan atau tidak lebih baik kita langsung saja mengambil tindakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini lebih efektif dari pada kita disibukkan untuk memikirkan apakah kita berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak.
Kalau kita bicara tentang bakat, harus diakui bahwa orang yang memilki bakat tertentu akan belajar lebih cepat dari pada yang kurang berbakat. Seseorang yang memiliki bakat seni musik akan lebih cepat belajar musik dari pada yang tidak atau kurang berbakat dalam hal seni. Namun perlu dicatat di sini bahwa orang yang berbakat seni tetapi tidak mau belajar seni tidak akan memiliki kemampuan seni. Mengapa? Karena bakat itu hanya berupa potensi. Kalau potensi tersebut tidak diledakkan ya akan tetap menjadi potensi saja. Tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan. Dengan kata lain, seorang yang tidak memiliki bakat musik tetap bisa memiliki kemampuan di bidang musik apabila mereka mau belajar. Konotasi belajar di sini tidak berarti belajar dalam arti formal maupun informal, tetapi juga belajar dalam arti mencoba melakukan (experiental learning). Maka jangan pernah memvonis diri sendiri tidak berbakat dalam suatu bidang tertentu sebelum mencobanya. Sampai di sini kita masih memiliki kesimpulan yang sama bahwa seberapa besarpun bakat kita tidak akan menjadi kemampuan yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mencobanya. Dengan kata lain, dari pada sibuk memikirkan bakat kita lebih baik kita sibuk melatih diri kita untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan.
Saat kita merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan sesuatu, hal tersebut bukan selalu karena bakat. Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba. Dengan demikian, kalau kita belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat saja.
Mau memiliki kemampuan yang hebat? Keep trying, keep doing! Ledakkan potensi Anda.
*) Agung Praptapa
Pikiran Terbuka
Anda mampu menjadi orang-orang yang hebat ketika otak Anda bekerja seperti parasut, yang artinya otak baru bisa dipakai kalau mengembang dan terbuka.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Open Your Mind
Oleh: Rhenald Kasali
SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS).
Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek,tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.
Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. "Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?" Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasardasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.
Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup.
Kekuatan Argumentasi
Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, "Prof," ujarnya. "Jawaban ini salah." Saya mengernyitkan dahi.Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. "Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,"lanjutnya.
"Jadi berapa tahun?" tanya saya. "Yadua tahun.Ini jawaban saya benar,"katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang "lemah". Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah.Maka,di kepala saya,berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plinplan. "Jadilah guru yang teguh." Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. "Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya.Pokoknya jawaban Anda salah.
Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40," ujar saya pada mahasiswa tadi. "Betul,"katanya lagi. "Di buku memang tertulis begitu.Saya tahu." "Ah, Anda tidak baca saja…," ujar saya lagi. "Bukan, tetapi ini tidak masuk akal." Dia mencoba menjelaskan.Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kokdidebat. Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu.
Dua tahun sudah rusak."Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal? Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah.Kalau cepat rusak tak apa-apa,setelah itu beli lagi,"katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material. Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar.
Ini soal integritas. "Nope," jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai. Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya.Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum. "Rhenald,"ujarnya. "I talk to this guy, and I like his idea." Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas."Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn't give the right answer," ujar saya.
"Saya mengerti," jawab profesor itu,"Tapi perhatikan ini.Saya suka cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar." Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu. Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah.Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja.
Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif,dan sebagainya.Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya. Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej.
Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang "master" dan bukan menciptakan pengikut.Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir,terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita,menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir.
Keluar dari Buku
Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan. Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile. Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar muridmuridnya yang berebut menjelaskan.
Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintarpintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai.Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide. Kali ini dia mengajak muridmuridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru.Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru. "Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?" Semua murid tertegun.
Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali.Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kirikanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan. "Apakah ada gambar yang bagus?" "Siapa yang berhak mengatakannya?" "Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya." Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. "Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks," ujarnya.
Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi. Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia,memerdekakannya dari segala tekanan, dari perilakuperilaku buruk, dari pikiranpikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan.
Dari semua itu,yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharing-kan kepada para guru dan dosen. Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi,tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas.
Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara suratsurat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya.(*)
*) Rhenald Kasali,
be well,
Dwika-ExecuTrain
Open Your Mind
Oleh: Rhenald Kasali
SUATU ketika seorang mahasiswa tingkat undergraduate mengetuk ruang kerja saya di Bevier Hall– University of Illinois, Amerika Serikat (AS).
Sebagai teaching assistant di kampus itu, saya bertugas menggantikan seorang profesor yang mengajar mata kuliah consumer economics. Selain mengajar, saya juga membuat sebagian soal ujian dan memeriksanya. Dengan mimik penuh percaya diri, dia menyampaikan masalahnya. Dia menunjuk lembar jawaban soal yang terdiri atas pilihan berganda (multiple choice) yang baru saja dia terima.Nilai yang dia dapat tidak terlalu jelek,tetapi dia kurang puas dan mengajak saya berdiskusi, khusus pada sebuah soal yang dianggapnya terbuka untuk didiskusikan. Setelah membacanya kembali, tiba-tiba saya tersadar, soalnya memang konyol sekali.
Pertanyaannya kurang lebih seperti ini. "Berapa lama rata-rata rumah tangga menggunakan handuk mandi?" Tentu saja setiap orang punya jawaban yang berbeda-beda. Namun karena mata kuliah ini didasarkan atas hasil riset, maka mahasiswa harus menguasai dasardasar perilaku konsumen yang datanya diperoleh secara riil dari riset. Jawabannya semua ada di buku teks. Jadi kalau buku dibaca atau bahan kuliah dipelototi, pasti mereka mudah menemukan jawabannya. Di buku teks jawaban tertulis, rata-rata rumah tangga mengonsumsi handuk selama delapan tahun. Dia memilih jawaban dua tahun.Tentu saja saya mencoretnya.
Bagi seorang guru, menemukan murid seperti ini mungkin biasa saja. Namun cerita berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan Anda tentang cara mendidik atau bahkan membimbing orang lain, karyawan,atau bahkan diri sendiri agar berhasil dalam hidup.
Kekuatan Argumentasi
Mahasiswa saya tadi mengajak saya berdiskusi, "Prof," ujarnya. "Jawaban ini salah." Saya mengernyitkan dahi.Maklum, belum pernah saya mendengar seorang mahasiswa di tingkat persiapan berani-beraninya menyalahkan soal, apalagi menyalahkan isi buku. "Maksud saya, setelah saya tanya-tanya ke kiri-kanan, tak ada orang yang menyimpan handuk mandi sampai 8 tahun,"lanjutnya.
"Jadi berapa tahun?" tanya saya. "Yadua tahun.Ini jawaban saya benar,"katanya lagi. Saya pun teringat dengan cara teman-teman saya sewaktu kuliah dulu mengakali dosen yang "lemah". Dosen seperti itu biasanya gampang diajak kompromi dan kalau kita pintar mengambil hatinya, angka bisa berubah.Maka,di kepala saya,berkompromi bukanlah karakter saya. Berkompromi sama dengan kelemahan, lembek, merendahkan martabat, plinplan. "Jadilah guru yang teguh." Kalimat itu terus mengalir di hati saya. Kompromi itu jelek, lemah, tidak konsisten, tidak berwibawa. "Ah, kamu ini cuma cari pembenaran saja. Ini justifikasi namanya.Pokoknya jawaban Anda salah.
Apa Anda tidak baca buku. Coba buka halaman 40," ujar saya pada mahasiswa tadi. "Betul,"katanya lagi. "Di buku memang tertulis begitu.Saya tahu." "Ah, Anda tidak baca saja…," ujar saya lagi. "Bukan, tetapi ini tidak masuk akal." Dia mencoba menjelaskan.Namun sebagai orang Indonesia yang terbiasa dididik tanpa kompromi di sekolah, saya mencoba untuk tidak mendengarkan argumentasinya. Saya khawatir wibawa saya terganggu. Dosen kokdidebat. Namun dia tetap menjelaskan panjang lebar bahwa sekarang tidak ada lagi handuk yang seawet itu.
Dua tahun sudah rusak."Dulu sabunnya tidak sekuat yang sekarang, lagipula mana ada produsen yang mau membuat handuk dengan material yang kuat dan harganya mahal? Konsumen memilih yang terjangkau dan produsen memilih barang-barang yang murah.Kalau cepat rusak tak apa-apa,setelah itu beli lagi,"katanya bersemangat. Matanya berbinar menjelaskan gagasannya dan penuh harap saya mau mengubah pendapat saya. Saya masih ingat dia menjelaskan tentang mesin cuci yang dulu tidak dipakai rumah tangga sehingga tidak merusak material. Lama kita berdebat dan sebenarnya saya suka mempunyai peserta didik yang kritis seperti itu. Namun, sebagai guru dari Indonesia, saya tidak suka ditawar-tawar.
Ini soal integritas. "Nope," jawab saya menolak permohonannya agar saya mengoreksi nilainya. Dia pun keluar dengan kecewa. Saya berpikir, urusan pun selesai. Namun, di luar dugaan, setengah jam kemudian dia kembali lagi. Kali ini dia datang diantar profesor saya.Seperti tak ada masalah sama sekali profesor itu datang dengan penuh senyum. "Rhenald,"ujarnya. "I talk to this guy, and I like his idea." Sudah tahu arahnya, saya pun segera menukas."Yes, he did talk to me, and indeed he was wrong. He didn't give the right answer," ujar saya.
"Saya mengerti," jawab profesor itu,"Tapi perhatikan ini.Saya suka cara berpikirnya. Dia memang memberi jawaban yang berbeda dengan buku, tetapi argumentasinya kuat dan dia benar." Singkat cerita, profesor itu meminta saya agar mendengarkannya dan memahami logika anak itu. Kejadian itu sekali lagi telah membuka pikiran saya. Betapa memalukannya otak reptil saya. Guru kok tertutup. Namun, saya beruntung segera menyadari kesalahan saya. Saya belajar bahwa saya menganut nilai-nilai yang salah.Tertutup, tak berkompromi, tegas, teguh, terlalu mengedepankan wibawa hanyalah merupakan bentuk defensif saya sebagai guru yang sebenarnya hanya perwujudan dari rasa takut yang berlebihan saja.
Takut dibilang lembek, kompromistis, mudah dirayu, tidak objektif,dan sebagainya.Pendapat yang semula saya tentang kini harus saya terima dan nilai anak itu saya koreksi. Bahkan seperti penjual kacang rebus yang suka menambah kacang ke dalam bungkusan pelanggannya, saya pun memberikan bonus angka kepadanya. Mendidik adalah lebih dari sekadar menjaga imej.
Mendidik adalah proses menjadikan orang lain seorang "master" dan bukan menciptakan pengikut.Yang ingin kita lahirkan adalah manusia yang mampu berpikir,terbuka terhadap logika. Bukan manusia-manusia dogmatik yang hanya mengikuti maunya kita,menulis apa yang kita diktekan, berpendapat apa yang menjadi pikiran kita, dan tak bisa menerima perbedaan pendapat. Malas berpikir.
Keluar dari Buku
Kisah anak-anak yang tak mampu berpikir di luar buku teks sudah banyak kita saksikan. Salah satu film yang paling saya suka dan selalu saya pakai untuk mengajari dosen-dosen muda menjadi pendidik adalah potongan film yang dibintangi Julia Roberts berjudul Monalisa Smile. Dalam film itu dikisahkan kesulitan seorang guru yang mengajar karena setiap kali dia menampilkan slide yang diambil dari buku, selalu disambar muridmuridnya yang berebut menjelaskan.
Dia benar-benar bingung. Muridnya aktif-aktif dan pintarpintar. Mereka sudah membaca assignment sebelum pelajaran dimulai.Mereka benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum masuk kelas dengan membaca, membuat ringkasan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dan aktif berbicara. Hari pertama mengajar dia gagal total. Namun minggu berikutnya, setelah merenungi dalam-dalam, dia mendapatkan ide. Kali ini dia mengajak muridmuridnya keluar dari buku teks. Dia menunjukkan slide yang sama sekali baru.Tak ada di buku dan bahan ajarannya sama sekali baru. "Coba lihatlah gambar ini. Apakah ini bagus?" Semua murid tertegun.
Gambar itu belum pernah mereka lihat dan tanpa referensi mereka tidak punya acuan sama sekali.Padahal, selama ini mereka hanya mengikuti perintah buku. Gambar itu bagus kalau kalimat di buku berkata gambar itu bagus. Sekarang saat gambar itu tak ada penjelasannya, mereka pun tak berani berpendapat. Mereka saling lihat kirikanan. Seorang yang mencoba menjawab kebingungan. "Apakah ada gambar yang bagus?" "Siapa yang berhak mengatakannya?" "Sesuatu yang bagus itu akan menjadi bagus tergantung siapa yang mengatakannya." Mereka terbelah. Ibu guru pun menjelaskan wisdom-nya. "Look, kalian baru saja keluar dari cara berpikir buku teks," ujarnya.
Dia mengajarkan perihal kehidupan, yaitu berani berpendapat dan membuat keputusan pribadi. Apa yang dapat dipelajari dari film Monalisa Smile dan kasus yang saya alami saat saya menjadi teaching assistant di University of Illinois dan berhadapan dengan mahasiswa yang minta agar saya mengoreksi jawaban soalnya 15 tahun yang lalu itu? Benar! Kita adalah manusia dan tugas guru adalah mendidik manusia,memerdekakannya dari segala tekanan, dari perilakuperilaku buruk, dari pikiranpikiran negatif, dari rasa sok pintarnya yang sesungguhnya belum apa-apa, dari belenggu-belenggu dogma, dan mengajaknya melihat keindahan dari apa yang diciptakan Tuhan.
Dari semua itu,yang terpenting adalah bagaimana kita hidup dengan otak yang terbuka dan mengajarkan keterbukaan. Bukankah otak kita bekerjanya seperti parasut, yang artinya dia baru bisa dipakai kalau dia mengembang dan terbuka? Itulah yang saya ajukan selama ini kepada anak-anak didik saya dan terbukti mereka mampu menjadi orang-orang yang hebat. Itu pula yang saya sharing-kan kepada para guru dan dosen. Sebagian orang cepat mengubah diri, tapi sebagian pendidik lain tidak peduli dengan cara ini. Mereka tetap ingin mengajar dengan cara-cara dogmatik. Ingin dipuja tanpa argumentasi,tak mau mendengarkan, takut dibilang lembek, dan ingin diterima bak seorang ulama besar yang tak terbantahkan. Itulah hidup, tak semua orang mau berubah. Namun Anda tak perlu cemas.
Orang-orang seperti itu sudah pernah menyurati saya dengan amarah berlembar-lembar. Mereka menembaki saya dengan ratusan peluru. Di antara suratsurat cinta mereka pun ada yang berisi ancaman, memperingatkan saya dan mengusir dari keguruan ini. Namun saya berkeyakinan, seorang pendidik sejati tak akan menyerah oleh ancaman-ancaman kosong. Dia tak berorientasi pada persaingan, melainkan pada masa depan anak-anaknya.(*)
*) Rhenald Kasali,
Hambatan bukanlah rintangan, melainkan tantangan
Hambatan yang ada hanyalah riak kecil yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Hambatan yang ada di depan mata bukanlah rintangan, melainkan tantangan. Taklukkan dan niatkan.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Teruslah Berlari
Oleh: Sonny Wibisono *
”Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan. Berlari-lari ’tuk wujudkan kenyataan. Lewati segala keterasingan. Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan.”
-- Pas Band feat. Tere dalam ‘Kesepian Kita’
HARI sudah gelap. Sebagian lampu-lampu di stadion telah dipadamkan. Pertandingan lari marathon memang sudah lama berakhir. Tiga peraih medali, sudah berganti baju. Pesta di antara mereka sudah berlangsung. Di lapangan, meski masih tersisa beberapa pertandingan atletik, namun penonton sudah tidak sebanyak siang sebelumnya.
Setelah lewat satu jam setelah lomba usai, tiba-tiba penonton dikejutkan pengumuman oleh panitia dari pengeras suara. Pertandingan ternyata belum usai. Masih ada satu pelari lagi yang akan memasuki stadion. Gemuruh tepuk tangan pun membahana di stadion saat seorang pelari mulai memasuki stadion. Para penonton berdiri dan memberikan standing ovation pada pelari bernomor 36 itu.
Langkah sang pelari tak mulus lagi. Bahkan langkahnya sempat terhenti saat memasuki pintu stadion. Sejenak dia tampak meringis menahan sakit, tapi tekadnya sungguh mengalahkan segalanya. Dengan kaki terbebat perban, dengan langkah yang tak sempurna, dia menuju garis finish pada lintasan lari tersebut.
Beberapa menit kemudian, dia pun menyempurnakan tugasnya. Dia menjadi pelari terakhir yang sanggup menyelesaikan jarak 42 kilometer. Pelari asal Tanzania itu menjadi pelari ke 57. Sebelas lainnya memilih menyerah dan ogah menuntaskan pertandingan. Walau menjadi pelari paling buncit, toh sejarah mencatatnya sebagai pelari berhati baja, kukuh bagai karang dalam mengemban sebuah tugas. Tak aneh bila gelar ’a King without crown’ atau ’Raja Tanpa Mahkota’ disematkan padanya.
Itulah sekelumit peristiwa yang terjadi di Mexico City, 42 tahun silam. Saat itu, Meksiko menjadi tuan rumah Olimpiade yang ke 19. Adalah John Stephen Akhwari, pria kelahiran pada 1938 di Mbulu, Tanganyika, Tanzania, membuat catatan penting yang akan dikenang sepanjang masa.
Saat bendera dikibarkan, saat lomba baru dimulai beberapa saat, Akhwari telah terhadang cedera. Pria berkulit legam itu terjatuh, yang menyebabkan ia terluka parah. Akhwari mengalami lepas engsel pada sendi lututnya. Sakit? Jangan ditanya. Rasa nyeri bersarang dilututnya. Akibat lukanya, Akhwari mengalami demam hebat. Pihak panitia pun menyarankan agar ia mengundurkan diri dari lomba. Tapi Akhwari malah memutuskan untuk terus berlari dan melanjutkan perlombaan. Sambil mengatasi rasa nyerinya, Akhwari terus berlari hingga mencapai finish.
Setelah usai, Akhwari ditanya oleh wartawan mengapa ia terus berlari. Akhwari menjawab sederhana, "Negaraku tidak mengirim aku sejauh 5000 mil ke Mexico City untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikannya."
Akhwari tak ingin mengecewakan negara dan seluruh rakyat Tanzania. Karena Akhwari berangkat mengikuti Olimpiade tersebut menggunakan uang yang berasal dari rakyat Tanzania. Negaranya tidak mengirimkannya untuk hanya memulai lomba, tapi juga untuk mengakhirinya. Ribuan dollar uang rakyat harus disisihkan untuk memberangkatkan seorang atlet ke Olimpiade. Tak pelak, Akhwari memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bukan karena ia meraih emas. Tapi karena dedikasinya menyelesaikan lomba walau dalam keadaan luka parah.
Dedikasi Akhwari, membuat namanya digunakan oleh ’John Stephen Akhwari Athletic Foundation’, sebuah organisasi yang mendukung pelatihan atlet Tanzania untuk Olimpiade. Akhwari juga diundang untuk Olimpiade tahun 2000 di Sydney, Australia. Dan kemudian juga muncul di Beijing sebagai duta dalam persiapan untuk Summer Olympics 2008.
Kisah Akhwari tak bisa dilakukan banyak orang. Bisa jadi hanya dialah sendiri yang mampu melakukannya. Namun bagi kita, perjuangan Akhwari tetap menjadi istimewa. Dia tidak hanya menanamkan mimpi di kepalanya untuk menjadi terbaik, tapi juga mencapainya dengan semaksimal mungkin.
Hambatan yang ada hanyalah riak kecil yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Sejatinya hambatan yang ada di depan mata bukanlah rintangan, melainkan tantangan. Bagaimana kita bisa menaklukkannya adalah tergantung pada niat dan keinginan yang kita miliki. Akhwari dengan tekad yang kuat, dan keteguhannya mengemban amanat adalah sebuah dorongan yang teramat dahsyat untuk menaklukkan semua masalah. Teruslah berlari menggapai mimpi-mimpimu.
*) Sonny Wibisono,
be well,
Dwika-ExecuTrain
Teruslah Berlari
Oleh: Sonny Wibisono *
”Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan. Berlari-lari ’tuk wujudkan kenyataan. Lewati segala keterasingan. Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan.”
-- Pas Band feat. Tere dalam ‘Kesepian Kita’
HARI sudah gelap. Sebagian lampu-lampu di stadion telah dipadamkan. Pertandingan lari marathon memang sudah lama berakhir. Tiga peraih medali, sudah berganti baju. Pesta di antara mereka sudah berlangsung. Di lapangan, meski masih tersisa beberapa pertandingan atletik, namun penonton sudah tidak sebanyak siang sebelumnya.
Setelah lewat satu jam setelah lomba usai, tiba-tiba penonton dikejutkan pengumuman oleh panitia dari pengeras suara. Pertandingan ternyata belum usai. Masih ada satu pelari lagi yang akan memasuki stadion. Gemuruh tepuk tangan pun membahana di stadion saat seorang pelari mulai memasuki stadion. Para penonton berdiri dan memberikan standing ovation pada pelari bernomor 36 itu.
Langkah sang pelari tak mulus lagi. Bahkan langkahnya sempat terhenti saat memasuki pintu stadion. Sejenak dia tampak meringis menahan sakit, tapi tekadnya sungguh mengalahkan segalanya. Dengan kaki terbebat perban, dengan langkah yang tak sempurna, dia menuju garis finish pada lintasan lari tersebut.
Beberapa menit kemudian, dia pun menyempurnakan tugasnya. Dia menjadi pelari terakhir yang sanggup menyelesaikan jarak 42 kilometer. Pelari asal Tanzania itu menjadi pelari ke 57. Sebelas lainnya memilih menyerah dan ogah menuntaskan pertandingan. Walau menjadi pelari paling buncit, toh sejarah mencatatnya sebagai pelari berhati baja, kukuh bagai karang dalam mengemban sebuah tugas. Tak aneh bila gelar ’a King without crown’ atau ’Raja Tanpa Mahkota’ disematkan padanya.
Itulah sekelumit peristiwa yang terjadi di Mexico City, 42 tahun silam. Saat itu, Meksiko menjadi tuan rumah Olimpiade yang ke 19. Adalah John Stephen Akhwari, pria kelahiran pada 1938 di Mbulu, Tanganyika, Tanzania, membuat catatan penting yang akan dikenang sepanjang masa.
Saat bendera dikibarkan, saat lomba baru dimulai beberapa saat, Akhwari telah terhadang cedera. Pria berkulit legam itu terjatuh, yang menyebabkan ia terluka parah. Akhwari mengalami lepas engsel pada sendi lututnya. Sakit? Jangan ditanya. Rasa nyeri bersarang dilututnya. Akibat lukanya, Akhwari mengalami demam hebat. Pihak panitia pun menyarankan agar ia mengundurkan diri dari lomba. Tapi Akhwari malah memutuskan untuk terus berlari dan melanjutkan perlombaan. Sambil mengatasi rasa nyerinya, Akhwari terus berlari hingga mencapai finish.
Setelah usai, Akhwari ditanya oleh wartawan mengapa ia terus berlari. Akhwari menjawab sederhana, "Negaraku tidak mengirim aku sejauh 5000 mil ke Mexico City untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikannya."
Akhwari tak ingin mengecewakan negara dan seluruh rakyat Tanzania. Karena Akhwari berangkat mengikuti Olimpiade tersebut menggunakan uang yang berasal dari rakyat Tanzania. Negaranya tidak mengirimkannya untuk hanya memulai lomba, tapi juga untuk mengakhirinya. Ribuan dollar uang rakyat harus disisihkan untuk memberangkatkan seorang atlet ke Olimpiade. Tak pelak, Akhwari memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bukan karena ia meraih emas. Tapi karena dedikasinya menyelesaikan lomba walau dalam keadaan luka parah.
Dedikasi Akhwari, membuat namanya digunakan oleh ’John Stephen Akhwari Athletic Foundation’, sebuah organisasi yang mendukung pelatihan atlet Tanzania untuk Olimpiade. Akhwari juga diundang untuk Olimpiade tahun 2000 di Sydney, Australia. Dan kemudian juga muncul di Beijing sebagai duta dalam persiapan untuk Summer Olympics 2008.
Kisah Akhwari tak bisa dilakukan banyak orang. Bisa jadi hanya dialah sendiri yang mampu melakukannya. Namun bagi kita, perjuangan Akhwari tetap menjadi istimewa. Dia tidak hanya menanamkan mimpi di kepalanya untuk menjadi terbaik, tapi juga mencapainya dengan semaksimal mungkin.
Hambatan yang ada hanyalah riak kecil yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Sejatinya hambatan yang ada di depan mata bukanlah rintangan, melainkan tantangan. Bagaimana kita bisa menaklukkannya adalah tergantung pada niat dan keinginan yang kita miliki. Akhwari dengan tekad yang kuat, dan keteguhannya mengemban amanat adalah sebuah dorongan yang teramat dahsyat untuk menaklukkan semua masalah. Teruslah berlari menggapai mimpi-mimpimu.
*) Sonny Wibisono,
Kualitas karakter Anda
Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan melainkan seberapa baik karakter Anda.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Menjadi Orang Sukses dan Berarti
Oleh: Andrew Ho
"Don't look to become a person of success, look instead to become a person of Value! – Jangan berkeinginan untuk menjadi orang sukses, berusahalah untuk menjadi orang yang berarti."
Albert Einstein
Setiap tahun sebuah majalah terkenal di dunia merilis daftar orang-orang terkaya dan berpengaruh di dunia. Sering pula digelar acara penghargaan untuk mengapresiasi para pengusaha dan CEO sukses dan ternama. Tentu sangat membanggakan jika Anda mendapatkan penghargaan bergengsi kelas dunia, dihormati, dan bergelimang kemewahan harta, sebab hal-hal semacam itu menjadi dambaan sebagian besar manusia di dunia.
Tak heran jika banyak orang berlomba mencari jabatan, mengumpulkan kekayaan dan meraih kesuksesan besar. Mereka juga mengejar standar gaya hidup orang-orang berkelas, misalnya menunggangi mobil mewah, menggunakan perhiasan dan pakaian super mahal, dan gaya hidup serba wah lainnya. Sebenarnya tak ada yang salah jika ingin menjadi kaya, sukses dan bahagia, sejauh usaha yang dilakukan tidak melanggar hukum, moral spiritual, dan norma-norma lainnya.
Namun ironis jika tujuan menjadi berpengaruh, terkenal, kaya, dan hidup serba mewah itu menjadikan seseorang menghalalkan segala cara termasuk menggunakan cara-cara negatif. Akhir-akhir ini saya sedih menyaksikan berita di televisi yang menayangkan begitu banyak orang memilih cara instan untuk cepat kaya dan terkenal, dan memiliki jabatan tinggi. Memang benar uang mereka bertumpuk konon kabarnya sampai dimakan rayap, memiliki jabatan tinggi, tetapi mereka lebih terkenal sekarang ketika terseret kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, praktek bisnis ilegal, dan lain sebagainya.
Nasib mereka kini sungguh menyedihkan dan terhina. Sebab mereka mengabaikan nilai-nilai spiritual, moralitas, dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam proses pencapaian kesuksesan. Patut menjadi pelajaran bagi kita semua untuk berpikir bahwa menjadi kaya raya, terkenal dan sukses belumlah cukup, dan berusaha menjadi manusia yang sukses dan berarti itu lebih penting.
"The major value in life is not what you get. The major value in life is what you become. – Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan melainkan seberapa baik (karakter) Anda," kata Jim Rohn, motivator USA ternama.
Menjadi orang sukses dan berarti memberi kita banyak sekali manfaat. Beberapa diantaranya adalah memudahkan kita menciptakan tujuan hidup, fokus pada pekerjaan, pintar membuat keputusan penting, memahami prioritas hidup sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah. Beberapa tips berikut akan membantu Anda segera menyongsong sukses sekaligus menjadi manusia yang lebih berarti.
Pertama adalah memiliki visi yang mulia, yaitu berpikir lebih jauh dan mempertimbangkan segala hal untuk senantiasa menciptakan kebaikan bagi semua orang. Visi tersebut akan mendorong Anda bekerja penuh komitmen dan dedikasi untuk meraih keberhasilan, bukan hanya menunggu belas kasihan orang lain dan menghindari diri berbuat curang. Memiliki visi mulia merupakan langkah penting untuk meraih sukses dan berarti bagi orang lain.
Kedua adalah memiliki integritas, yaitu kejujuran dalam setiap tindak tanduk dan perbuatan. Kejujuran pasti memberi kemudahan, sebab kejujuran pasti menang dalam persaingan memperebutkan kepercayaan orang lain. Nilai kejujuran sudah pasti menuntun Anda pada kemajuan dan meraih kesuksesan yang lebih berharga.
Ketiga adalah menyukai pekerjaan yang Anda lakukan, mencintai keluarga dan sesama di sekitar Anda. Kecintaan pada keluarga dan pekerjaan serta sesama akan membuat pikiran lebih positif dan berfungsi lebih baik, karena tidak ada kebencian pada siapapun. Bila kinerja Anda lebih baik, Anda tentu lebih mudah menciptakan kemajuan dan mencapai kesuksesan yang Anda dambakan.
Keempat adalah berempati kepada orang lain, yaitu usaha meringankan beban orang lain tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu. Berempati pada orang lain dapat berbentuk materi, dukungan motivasi, pikiran atau tenaga. Empati dapat menjadi semangat dalam berusaha meraih kesuksesan, sekaligus menjadikan kesuksesan Anda lebih berarti bagi orang lain.
Kelima adalah meningkatkan kekuatan iman dan rasa syukur atas segala karunia-Nya. Keduanya akan mencegah Anda dari perbuatan negatif atau upaya tercela hanya untuk mencapai target tertentu. Dengan iman dan syukur, kesuksesan sekecil apapun akan memberi nilai yang besar.
Keenam adalah mengasah bakat dan kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan, serta terus belajar dari berbagai hal termasuk dari kesalahan terdahulu. Membuka diri dengan terus belajar akan membantu Anda terhindar dari kesulitan dan habis waktu sia-sia. Langkah ini akan membantu Anda menemukan berbagai alternatif untuk membangkitkan bisnis atau menyelesaikan pekerjaan dengan hasil terbaik.
Ketujuh adalah semangat dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Semangat yang Anda tunjukkan akan mengalirkan energi positif kepada orang lain. Antusiame kerja Anda akan memberikan nilai yang luar biasa terhadap apapun yang Anda lakukan.
Setelah memahami tips di atas, tidak begitu sulit bukan menjadi orang yang sukses dan berarti? Yang jelas menjadi orang sukses itu membanggakan, dan akan lebih membahagiakan jika kita juga dapat memberikan kontribusi terhadap orang lain. Dengan keteguhan, kesungguhan dari dalam diri Anda, dan cara yang positif semua hal yang Anda upayakan untuk meraih sukses dan menjadi manusia berarti pasti akan terwujud.
*Andrew Ho
be well,
Dwika-ExecuTrain
Menjadi Orang Sukses dan Berarti
Oleh: Andrew Ho
"Don't look to become a person of success, look instead to become a person of Value! – Jangan berkeinginan untuk menjadi orang sukses, berusahalah untuk menjadi orang yang berarti."
Albert Einstein
Setiap tahun sebuah majalah terkenal di dunia merilis daftar orang-orang terkaya dan berpengaruh di dunia. Sering pula digelar acara penghargaan untuk mengapresiasi para pengusaha dan CEO sukses dan ternama. Tentu sangat membanggakan jika Anda mendapatkan penghargaan bergengsi kelas dunia, dihormati, dan bergelimang kemewahan harta, sebab hal-hal semacam itu menjadi dambaan sebagian besar manusia di dunia.
Tak heran jika banyak orang berlomba mencari jabatan, mengumpulkan kekayaan dan meraih kesuksesan besar. Mereka juga mengejar standar gaya hidup orang-orang berkelas, misalnya menunggangi mobil mewah, menggunakan perhiasan dan pakaian super mahal, dan gaya hidup serba wah lainnya. Sebenarnya tak ada yang salah jika ingin menjadi kaya, sukses dan bahagia, sejauh usaha yang dilakukan tidak melanggar hukum, moral spiritual, dan norma-norma lainnya.
Namun ironis jika tujuan menjadi berpengaruh, terkenal, kaya, dan hidup serba mewah itu menjadikan seseorang menghalalkan segala cara termasuk menggunakan cara-cara negatif. Akhir-akhir ini saya sedih menyaksikan berita di televisi yang menayangkan begitu banyak orang memilih cara instan untuk cepat kaya dan terkenal, dan memiliki jabatan tinggi. Memang benar uang mereka bertumpuk konon kabarnya sampai dimakan rayap, memiliki jabatan tinggi, tetapi mereka lebih terkenal sekarang ketika terseret kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, praktek bisnis ilegal, dan lain sebagainya.
Nasib mereka kini sungguh menyedihkan dan terhina. Sebab mereka mengabaikan nilai-nilai spiritual, moralitas, dan kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam proses pencapaian kesuksesan. Patut menjadi pelajaran bagi kita semua untuk berpikir bahwa menjadi kaya raya, terkenal dan sukses belumlah cukup, dan berusaha menjadi manusia yang sukses dan berarti itu lebih penting.
"The major value in life is not what you get. The major value in life is what you become. – Nilai utama dalam hidup itu bukan apa yang Anda dapatkan melainkan seberapa baik (karakter) Anda," kata Jim Rohn, motivator USA ternama.
Menjadi orang sukses dan berarti memberi kita banyak sekali manfaat. Beberapa diantaranya adalah memudahkan kita menciptakan tujuan hidup, fokus pada pekerjaan, pintar membuat keputusan penting, memahami prioritas hidup sehingga langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah. Beberapa tips berikut akan membantu Anda segera menyongsong sukses sekaligus menjadi manusia yang lebih berarti.
Pertama adalah memiliki visi yang mulia, yaitu berpikir lebih jauh dan mempertimbangkan segala hal untuk senantiasa menciptakan kebaikan bagi semua orang. Visi tersebut akan mendorong Anda bekerja penuh komitmen dan dedikasi untuk meraih keberhasilan, bukan hanya menunggu belas kasihan orang lain dan menghindari diri berbuat curang. Memiliki visi mulia merupakan langkah penting untuk meraih sukses dan berarti bagi orang lain.
Kedua adalah memiliki integritas, yaitu kejujuran dalam setiap tindak tanduk dan perbuatan. Kejujuran pasti memberi kemudahan, sebab kejujuran pasti menang dalam persaingan memperebutkan kepercayaan orang lain. Nilai kejujuran sudah pasti menuntun Anda pada kemajuan dan meraih kesuksesan yang lebih berharga.
Ketiga adalah menyukai pekerjaan yang Anda lakukan, mencintai keluarga dan sesama di sekitar Anda. Kecintaan pada keluarga dan pekerjaan serta sesama akan membuat pikiran lebih positif dan berfungsi lebih baik, karena tidak ada kebencian pada siapapun. Bila kinerja Anda lebih baik, Anda tentu lebih mudah menciptakan kemajuan dan mencapai kesuksesan yang Anda dambakan.
Keempat adalah berempati kepada orang lain, yaitu usaha meringankan beban orang lain tanpa pamrih dan tanpa pandang bulu. Berempati pada orang lain dapat berbentuk materi, dukungan motivasi, pikiran atau tenaga. Empati dapat menjadi semangat dalam berusaha meraih kesuksesan, sekaligus menjadikan kesuksesan Anda lebih berarti bagi orang lain.
Kelima adalah meningkatkan kekuatan iman dan rasa syukur atas segala karunia-Nya. Keduanya akan mencegah Anda dari perbuatan negatif atau upaya tercela hanya untuk mencapai target tertentu. Dengan iman dan syukur, kesuksesan sekecil apapun akan memberi nilai yang besar.
Keenam adalah mengasah bakat dan kemampuan yang dapat menunjang pekerjaan, serta terus belajar dari berbagai hal termasuk dari kesalahan terdahulu. Membuka diri dengan terus belajar akan membantu Anda terhindar dari kesulitan dan habis waktu sia-sia. Langkah ini akan membantu Anda menemukan berbagai alternatif untuk membangkitkan bisnis atau menyelesaikan pekerjaan dengan hasil terbaik.
Ketujuh adalah semangat dalam mengerjakan setiap tanggung jawab. Semangat yang Anda tunjukkan akan mengalirkan energi positif kepada orang lain. Antusiame kerja Anda akan memberikan nilai yang luar biasa terhadap apapun yang Anda lakukan.
Setelah memahami tips di atas, tidak begitu sulit bukan menjadi orang yang sukses dan berarti? Yang jelas menjadi orang sukses itu membanggakan, dan akan lebih membahagiakan jika kita juga dapat memberikan kontribusi terhadap orang lain. Dengan keteguhan, kesungguhan dari dalam diri Anda, dan cara yang positif semua hal yang Anda upayakan untuk meraih sukses dan menjadi manusia berarti pasti akan terwujud.
*Andrew Ho
Melakukan yang benar
Agar sukses, bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar. Orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
be well,
Dwika-ExecuTrain
10 Kesalahpahaman tentang kesuksesan
oleh KAK ECHO
Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan.
Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.
Kesalahpahaman 2
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Kesalahpahaman 3
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja.
Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Kesalahpahaman 4
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Kesalahpahaman 5
-- Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum.
Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Kesalahpahaman 6
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan.
Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.
Kesalahpahaman 7
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.
Kesalahpahaman 8
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.
Kesalahpahaman 9
Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda.
Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"
Kesalahpahaman 10
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan.
Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.
be well,
Dwika-ExecuTrain
10 Kesalahpahaman tentang kesuksesan
oleh KAK ECHO
Kesalahpahaman 1
Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan.
Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.
Kesalahpahaman 2
Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Kesalahpahaman 3
Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja.
Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Kesalahpahaman 4
Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Kesalahpahaman 5
-- Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum.
Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Kesalahpahaman 6
Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan.
Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.
Kesalahpahaman 7
Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.
Kesalahpahaman 8
Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.
Kesalahpahaman 9
Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda.
Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"
Kesalahpahaman 10
Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan.
Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami di masa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.
Bank Ide
Ide bisa kita pungut dari koran, majalah, televisi, dan pengalaman (sendiri atau orang lain). Buat “bank tema” tulisan. Ide tulisan -terutama jika kita sudah terbiasa menulis- akan datang mengalir deras. Nyaris, setiap yang kita baca, kita lihat, kita dengar, atau apa yang dialami orang lain, bisa menjelma menjadi ide yang menarik. Sungguh, ide bisa datang dari mana dan kapan saja.
be well,
Dwika-ExecuTrain
Kiat Menulis Artikel dan Menembus Media
Oleh : M. Anwar Djaelani,
Menulis? “Aduh, saya tak bisa! Sulit menemukan tema. Jikapun saya bisa menulis, siapa yang akan berkenan memuatnya?” Demikian, rata-rata jawaban dari orang yang kita minta untuk menulis artikel. Beralasankah sikap seperti itu?
Bisa, InsyaAllah!
Setiap orang -semestinya- bisa menulis artikel. Lho? Coba perhatikan keseharian kita! Bukankah rata-rata orang akan beropini saat menjumpai sesuatu yang menarik perhatian di sekelilingnya?
Sungguh, tema untuk dikembangkan medikembangkan menjadi tulisan yang menarik, cukup mudah kita mendapatkannya. Tema itu bisa berasal dari berbagai level. Mulai dari skala pribadi / keluarga, tingkat perkotaan, bahkan sampai ke level nasional.
Di level rumah tangga, misalnya. Ketika ibu-ibu mendapati kenyataan bahwa harga beberapa kebutuhan pokok merangkak naik mengiringi kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), maka mereka bisa menulis opini tentang ini.
Opini mereka, bisa dari berbagai sudut pandang, tergantung dari hal mana yang paling menarik perhatiannya atau ilmu/informasi yang paling dikuasainya. Misal, seorang ibu bisa memandang masalah ini dari sisi hikmah. Dari segi ini bisa ditulis bahwa inilah momentum untuk mengampanyekan “Gerakan Hidup Hemat” secara khusus bagi seluruh anggota keluarga masing-masing dan secara umum bagi masyarakat luas.
Di dalamnya, mereka bisa berbagi kiat, bahwa dengan berhemat kita bahkan bisa lebih berbagia. Oleh karena itu, patutlah kiranya semua pihak mengampanyekan sekaligus mengamalkan “Gerakan Hidup Hemat” ini. “Jadikan hidup hemat sebagai gaya hidup,” demikian inti pesan dari opini itu.
Lalu, di level perkotaan, seperti apa contohnya? Misal, apa opini kita tentang sikap walikota di sebuah kota besar yang masih mempertahankan lokalisasi prostitusi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu? Bukankah, Sang Gubernur dan wakilnya sudah mendorongnya secara kuat untuk segera menutupnya? Bukankah, ulama-ulama di kota itu sudah menyatakan kegerahannya atas keberadaan sarang maksiat itu?
Sementara, di level nasional, apa pula contohnya? Misal, apa opini kita atas berlarut-larutnya kenyataan pahit bahwa pelaksanaan hukum masih bersifat ‘tebang pilih’? Bahwa hukum masih dipraktikkan seperti saat kita menggunakan pisau, yang hanya tajam mengiris bagian yang di bawah (yaitu rakyat kecil / kaum yang tak berpunya) dan tumpul saat berhadapan dengan bagian yang di atas (yaitu ‘rakyat besar’ / kaum berharta / penguasa). Lihat –sekadar untuk menyebut contoh-, bagaimana seorang tahanan yang berduit banyak cukup leluasa keluar-masuk sel dan bahkan sempat terbang berwisata ke sebuah ‘pulau wisata’ untuk menonton sebuah pertandingan tenis internasional.
Pendek kata, masalah ada di mana-mana dan kita pasti mempunyai opini tentang itu. Jika selama ini, opini kita sebatas kita utarakan ke orang-orang di lingkungan dekat kita yang jumlahnya terbatas, maka sadarilah –sesungguhnya- opini itu akan jauh lebih bermanfaat jika jika dibaca (yang pada akhirnya juga akan didengar) oleh orang dalam jumlah yang sangat banyak dan tersebar di berbagai sudut negeri.
Niat dan Pembiasaan
Atas ilustrasi sekilas di atas, ayo segera ambil pena, mulailah menulis! Jangan ragu. Sebab, dalam hal kepenulisan, bakat itu -kata seorang ahli- hanya menyumbang 5 – 10% saja. Sisanya, ketekunan untuk terus berlatih sebagaimana dulu kita belajar naik sepeda.
Masih ingatkah dulu, di saat-saat awal belajar bersepeda. Tentu saja, semua orang akan mengawalinya dengan tahapan jatuh dan jatuh samapai di kemudian saat bisa menemukan ‘resep’ bagaimana menjaga keseimbangan tubuh dan mengatur kecepatan sedemikian kita bisa bersepeda dengan nyaman dan aman. Itu semua, memerlukan latihan-latihan yang cukup.
Paralel dengan kisah belajar bersepeda di atas, untuk menjadi penulis yang baik, ketrampilan menulis harus terus diasah. Proses ‘jatuh dan jatuh’ di saat awal adalah lumrah. Contoh ‘jatuh dan jatuh’, seperti mulai dari sekadar dikritik teman sampai ditolak oleh redaktur untuk dimuat di medianya.
Dalam hal ‘jatuh-jatuh’ itu, -bisa dibilang- semua penulis pernah mengalaminya. Tanpa bermaksud mengecilkan hati para calon penulis, banyak cerita nyata, bahwa seseorang yang sekarang kita kenal sebagai penulis (terkenal), ternyata di saat-saat awal, sejumlah naskah/artikel yang dikirimnya tak langsung dimuat. Ada yang bercerita dimuat setelah mengirim lebih dari tiga puluh kali. Seseorang lainnya, setelah lebih dari tujuh puluh kali.
Semakin sebuah media cetak terkenal, maka kompetisi untuk menembusnya akan semakin ketat. Konon, sebuah koran nasional yang oplahnya sekitar setengah jutaan, tiap hari menerima sekitar seratus artikel setiap hari. Sementara, di tiap edisi, koran tersebut rata-rata hanya bisa memuat dua buah artikel dan bahkan kadang cuma satu artikel saja.
Sekali lagi, fakta di atas perlu diungkap, semata-untuk lebih meneguhkan komitmen kita bahwa dalam belajar menulis itu tahapan ‘jatuh dan jatuh’ adalah sesuatu yang biasa dan bahkan memang harus dilewati agar kita lebih matang, cerdas, dan arif.
Dengan demikian, ‘teori-teori’ yang akan diungkap segera setelah ini hanya sekadar bagi-bagi pengalaman dari seorang sahabat. Kelak, insyaAllah, Andapun akan punya pengalaman, yang -boleh jadi- serupa atau berbeda. Dari mana pengalaman itu? Tentu saja dari praktik menulis yang terus-menerus. Dari sebuah pembiasaan yang tiada henti.
Namun, pembiasan untuk terus menulis itu harus didasari pada sebuah niat yang benar. Tata niat kita dulu. Apa motivasi kita menulis? Demi idealismekah? Misal, untuk turut mencerdaskan bangsa dengan jalan memengaruhi opini publik. Ataukah, sekadar untuk meraih popularitas? Atau, sarana mencari uang? Tentu saja, pilihan motivasi itu akan berbanding lurus dengan ‘daya juang’ kita dalam (berlatih) menulis.
Apapun niat Anda, menjadi penulis itu pasti ‘kaya’, karena dia berposisi sebagai pemberi (ilmu/pengetahuan/gagasan). Dia pasti kaya wawasan, sebab aktivitas menulis mewajibkan dirinya untuk terus membaca. Kecuali itu, penulis juga berpeluang besar untuk kaya secara materi, dari honorarium atau royalti karya-karyanya.
Agar kaya wawasan, maka jadikanlah aktivitas membaca sebagai keseharian kita. Dan, memang, tulisan bagus biasanya akan lahir dari seorang pembaca yang rakus.
Jurus Jitu
Berdasarkan pengalaman, berikut ini sejumlah catatan yang bisa kita aplikasikan untuk belajar menulis artikel sekaligus kiat sukses menembus media (cetak).
A. Faktor Teknis
1. Buat “bank tema” tulisan. Ide tulisan -terutama jika kita sudah terbiasa menulis- akan datang mengalir deras. Nyaris, setiap yang kita baca, kita lihat, kita dengar, atau apa yang dialami orang lain, bisa menjelma menjadi ide yang menarik. Sungguh, ide bisa datang dari mana dan kapan saja. Ide bisa kita pungut dari koran, majalah, televisi, dan pengalaman (sendiri atau orang lain). Maka, usahakanlah untuk selalu membawa alat tulis. Segera tulis ide(-ide) yang kerap datang secara tiba-tiba.
Untuk artikel, ide harus orisinal, aktual, urgen, menawarkan wawasan baru, dan memberi solusi. Contoh: Saat naskah ini ditulis, untuk masalah perkotaan di Surabaya, bisa diangkat tema tentang semakin meningkatnya jumlah pelanggar lampu lalu-lintas di berbagai perempatan jalan. “Kepada para ‘Koruptor’ di Perempatan Jalan” bisa menjadi salah satu pilihan judul.
Sekali lagi, baca media cetak, ‘baca’ TV, ‘baca’ peristiwa di sekitar kita. Maka, pengetahuan kita akan bertambah, perbendaharaan kata semakin kaya, dan –yang paling penting- bisa mengail ide / tema tulisan.
Contoh:
* Baca media cetak, lahir: 1. Bisakah Gizi Buruk Picu Sadar Zakat (Jawa Pos 30/4/08). Urgensi Meneliti dan Menulis bagi Guru (Jawa Pos 26/3/08). 2. Habiburrahman sebagai Fenomena Penulis Kaya (Jawa Pos 3/3/08) 3.Ulama dan Relativisme Kaum Liberal (Jawa Pos 16/11/07) 4. Kontribusi Relativisme ke Aliran Sesat (Jawa Pos 23/11/07). 5. Hukuman Guru dan Mimpi Buruk Murid (Radar Surabaya, 21/2/08).
* ‘Baca’ media elektronik, lahir Tukul, “Kesehatan” Publik, dan KPID Jatim (Jawa Pos 2/3/07).
* ‘Baca’ peristiwa di sekitar, lahir Penutupan Jalan Vs Kepentingan Umum (Jawa Pos 13/7/06), Kantin Kejujuran, Pendidikan Antikorupsi (Jawa Pos, 6/11/2008), Ayat Cinta (Buletin Hanif 27/7/2007).
1. Buat judul yang mencerminkan tema. Judul yang baik, antara lain: a). Mampu mencuri perhatian pembaca. b). Mencerminkan tema / arah tulisan, sehingga bisa menjadi ‘miniatur’ isi keseluruhan tulisan. c). Ringkas dan padat.
Sebagai sarana berlatih, seringlah memerhatikan judul-judul artikel di berbagai media cetak. Misal: “Berhaji Sekali, tapi Berimplikasi Sosial”, Jawa Pos, 27 November 2007. “Hijrah Pemimpinku dan Bangsaku! ”, Jawa Pos, 26 Maret 2001. “Intelelektual, Artikel, dan Buku”, Jawa Pos, 20 Mei 2007. “Berhaji, Menjadi Abdullah Sejati”, Radar Surabaya,13 Desember 2005. ”Pemimpin Amanah dan Sekolah Ramadhan”, Radar Surabaya, 15 Oktober 2005. “Berani Mubahalah untuk Fatwa MUI?”, Radar Surabaya,12 Agustus 2005. “Din dan Wajah Muhammadiyah”, Radar Surabaya, 9 Juli 2005. “Quo Vadis Muhammadiyah”, Radar Surabaya, 30 Juni 2005. “Surga Pornografi Nomor Dua”, Jawa Pos,15 September 2004. ”Ekses Kampanye Kawin Beda Agama”, Jawa Pos, 27 Oktober 2002. “Apa Kabar ‘I’ di HMI?”, Jawa Pos, 1 Mei 2002. “Hidup Bersih Tanpa Gratifikasi”, Radar Surabaya, 8 November 2006.
1. Buat outline / kerangka karangan sebelum menulis secara lengkap. Berdasar ide / tema yang telah kita pilih, buatlah outline untuk memudahkan pengembangan penulisan. Pada dasarnya, alur menulis terangkai dalam:
Pertama, pendahuluan.
Pendahuluan berbentuk paparan ringkas dari masalah yang akan kita kupas. Untuk artikel, pendahuluan biasa pula disebut dengan lead. Posisi lead menempati alinea pertama. Fungsi lead: Penggugah rasa ingin tahu pembaca. Artinya, setelah terpikat oleh judul, pembaca dapat terus kita ikat minat bacanya sampai tuntas membaca keseluruhan tulisan. Pendek kata, lead mengantar pembaca ke gagasan utama sang penulis.
Ada tiga pilihan gaya lead. Langsung menyodok dengan serangkaian pertanyaan / pemaparan masalah. Atau, berupa kutipan ayat suci / hadits, buku, pernyataan orang. Atau, ringkasan tulisan kita.
Kedua, berisi pembahasan (berupa analisis atas masalah yang kita angkat). Pembahasan harus sistimatis, argumentatif, tuntas, ditulis dengan bahasa baku namun tetap dengan sentuhan popular.
Dan, ketiga, berisi penutup. Bagian ini memuat kesimpulan atau solusi atas masalah yang dikupas. Disajikan sekaligus dengan gaya pamit.
1. Tentang panjang tulisan. Perhatikanlah kebijaksanaan khas tiap media cetak dalam menerima artikel. Misal, tentang panjang tulisan yang kita kirim. Usahakanlah sesuai dengan “ketentuan” dari masing-masing media cetak. Secara umum, media membutuhkan artikel sepanjang 6000 karakter. Hanya saja, sejumlah media cetak ada meminta secara khusus. Di Radar Surabaya, misalnya, artikel yang diinginkan sekadar 4500 karakter.
Dua pihak sama-sama diuntungkan jika kita mengirim artikel sesuai dengan kebutuhan si media. Pertama, si redaktur beruntung karena dia tak memerlukan waktu editing yang lama. Kedua, si penulis diuntungkan karena kemungkinan si redaktur ‘salah gunting’ (karena alasan editing) ternihilkan.
1. Tentang ‘kelengkapan’ naskah. Terutama di masa awal “karir” kepenulisan, saat mengirim naskah jangan lupa untuk menyertakan semcam surat pengantar dengan menonjolkan, pertama, perlihatkan otoritas kita dalam menulis artikel dengan tema yang kita kirimkan itu. Lalu, tulislah -jika punya- pengalaman menulis sebelumnya (misal, pernah aktif di pers kampus saat masih mahasiswa atau tunjukkan media cetak mana saja yang pernah memuat tulisan kita). Jika belum punya, tak perlu berkecil hati. Kedua, lengkapilah dengan salinan kartu identitas kita. Sertakan pula foto, nomor kontak, dan nomor rekening bank (untuk pengiriman honorarium jika naskah kita dimuat). Kelak, jika sudah dikenal redakturnya, pengiriman naskah lewat email -biasanya- tak memerlukan lagi “lampiran-lampiran” tadi karena redaktur sudah punya arsip.
B. Faktor Non-Teknis
1. Secara umum, kenali karakter media yang akan kita kirimi artikel. Tiap-tiap media pasti memiliki “ciri khas” seperti dalam hal segmen pembaca, pilihan tema artikel, dan gaya bahasa. Caranya? Pelajarilah berita-berita dan artikel-artikel yang dimuat di berbagai media. Sekadar contoh, bandingkanlah berita dan artikel di Jawa Pos, Kompas, dan Republika.
2. Secara khusus, kenali ‘selera’ redaktur opininya. Dia suka tema-tema apa dan dengan ‘model’ penyajian seperti apa? Kadang, sekalipun di media yang sama, jika terjadi pergantian redaktur maka –sedikit atau banyak- akan mengubah pula “peta” kecenderungan artikel yang dimuat.
3. Pilih posisi, akankah menjadi penulis spesialis atau generalis. Untuk tahap awal, disarankan agar menulis artikel yang sesuai dengan otoritas keilmuan yang kita miliki. Kelak, jika kita mulai dikenal sebagai penulis yang potensial, maka bisa saja kita mulai untuk menulis tema-tema lain yang ‘berbeda’.
Ayo, Mulai!
Sekarang, tak perlu kita tunda-tunda lagi. Untuk (bisa) menulis, tak ada kiat yang paling manjur selain dengan apa yang dikenal sebagai “Tiga M”: mulai, mulai, dan mulailah!
Untuk itu, berikut ini (sebagian) daftar alamat email media cetak yang bisa kita kirimi artikel. Untuk Jawa Pos edisi nasional ke opini@jawapos.co.id. Untuk edisi metropolis ke metropolis@jawapos.co.id. Sementara, untuk Radar Surabaya ke radarsurabaya@yahoo.com.
Untuk Republika, silakan ke sekretariat@republika.co.id. Untuk Kompas edisi nasional bisa ke opini@kompas.com dan edisi Jawa Timur ke kompas@sby.dnet.net.id. Sementara untuk SURYA ke redaksi@surya.co.id. Lalu, untuk Surabaya Post ke redaksi@surabaya-post.info atau surabaya_post@yahoo.com.
Mari, menulis dan teruslah menulis! Warnai dunia dengan opini bernas kita. Warnai dunia dengan tulisan-tulisan kita yang mengajak sesama untuk berperadaban mulia. Jika, karena sesuatu dan lain hal media cetak belum memuat karya kita, kini media online memberi peluang sangat lebar sedemikian rupa tulisan-tulisan kita bisa dibaca oleh begitu banyak orang, misal lewat blog.
Ayo, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Salam! []
Daftar Bacaan
Dunia Kata (Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian), M. Fauzil Adhim, DAR! Mizan, Bandung, 2004
Jurnalistik Dakwah, Sutirman Eka Ardhana, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 1995
Jurnalisme Islam, Herry Muhammad, Pustaka Progressif, Surabaya, 1992
Kiat Menjadi Penulis Sukses, Abu Al-Ghifari, Mujahid Press, Bandung, 2002
Lincah Menulis Pandai Bicara, Asep Syamsul M. Romli, Nuansa Cendekia, Bandung, 2005
Menjadi Powerful Da’I dengan Menulis Buku, Bambang Trim, KOLBU, Bandung, 2006
Menulis Bisa Bikin Kaya, Helvy Tiana Rosa, Ziyad Visi Media, Jajar Laweyan, 2007
Panduan Membuat Karya Tulis, O. Setiawan Djuharie dan Suherli, CV Yrama Widya, Bandung, 2005
Teknik Penulisan Ilmiah Populer, Slamet Soeseno, Gramedia, Jakarta, 1997
Media Silaturrahim
be well,
Dwika-ExecuTrain
Kiat Menulis Artikel dan Menembus Media
Oleh : M. Anwar Djaelani,
Menulis? “Aduh, saya tak bisa! Sulit menemukan tema. Jikapun saya bisa menulis, siapa yang akan berkenan memuatnya?” Demikian, rata-rata jawaban dari orang yang kita minta untuk menulis artikel. Beralasankah sikap seperti itu?
Bisa, InsyaAllah!
Setiap orang -semestinya- bisa menulis artikel. Lho? Coba perhatikan keseharian kita! Bukankah rata-rata orang akan beropini saat menjumpai sesuatu yang menarik perhatian di sekelilingnya?
Sungguh, tema untuk dikembangkan medikembangkan menjadi tulisan yang menarik, cukup mudah kita mendapatkannya. Tema itu bisa berasal dari berbagai level. Mulai dari skala pribadi / keluarga, tingkat perkotaan, bahkan sampai ke level nasional.
Di level rumah tangga, misalnya. Ketika ibu-ibu mendapati kenyataan bahwa harga beberapa kebutuhan pokok merangkak naik mengiringi kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), maka mereka bisa menulis opini tentang ini.
Opini mereka, bisa dari berbagai sudut pandang, tergantung dari hal mana yang paling menarik perhatiannya atau ilmu/informasi yang paling dikuasainya. Misal, seorang ibu bisa memandang masalah ini dari sisi hikmah. Dari segi ini bisa ditulis bahwa inilah momentum untuk mengampanyekan “Gerakan Hidup Hemat” secara khusus bagi seluruh anggota keluarga masing-masing dan secara umum bagi masyarakat luas.
Di dalamnya, mereka bisa berbagi kiat, bahwa dengan berhemat kita bahkan bisa lebih berbagia. Oleh karena itu, patutlah kiranya semua pihak mengampanyekan sekaligus mengamalkan “Gerakan Hidup Hemat” ini. “Jadikan hidup hemat sebagai gaya hidup,” demikian inti pesan dari opini itu.
Lalu, di level perkotaan, seperti apa contohnya? Misal, apa opini kita tentang sikap walikota di sebuah kota besar yang masih mempertahankan lokalisasi prostitusi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu? Bukankah, Sang Gubernur dan wakilnya sudah mendorongnya secara kuat untuk segera menutupnya? Bukankah, ulama-ulama di kota itu sudah menyatakan kegerahannya atas keberadaan sarang maksiat itu?
Sementara, di level nasional, apa pula contohnya? Misal, apa opini kita atas berlarut-larutnya kenyataan pahit bahwa pelaksanaan hukum masih bersifat ‘tebang pilih’? Bahwa hukum masih dipraktikkan seperti saat kita menggunakan pisau, yang hanya tajam mengiris bagian yang di bawah (yaitu rakyat kecil / kaum yang tak berpunya) dan tumpul saat berhadapan dengan bagian yang di atas (yaitu ‘rakyat besar’ / kaum berharta / penguasa). Lihat –sekadar untuk menyebut contoh-, bagaimana seorang tahanan yang berduit banyak cukup leluasa keluar-masuk sel dan bahkan sempat terbang berwisata ke sebuah ‘pulau wisata’ untuk menonton sebuah pertandingan tenis internasional.
Pendek kata, masalah ada di mana-mana dan kita pasti mempunyai opini tentang itu. Jika selama ini, opini kita sebatas kita utarakan ke orang-orang di lingkungan dekat kita yang jumlahnya terbatas, maka sadarilah –sesungguhnya- opini itu akan jauh lebih bermanfaat jika jika dibaca (yang pada akhirnya juga akan didengar) oleh orang dalam jumlah yang sangat banyak dan tersebar di berbagai sudut negeri.
Niat dan Pembiasaan
Atas ilustrasi sekilas di atas, ayo segera ambil pena, mulailah menulis! Jangan ragu. Sebab, dalam hal kepenulisan, bakat itu -kata seorang ahli- hanya menyumbang 5 – 10% saja. Sisanya, ketekunan untuk terus berlatih sebagaimana dulu kita belajar naik sepeda.
Masih ingatkah dulu, di saat-saat awal belajar bersepeda. Tentu saja, semua orang akan mengawalinya dengan tahapan jatuh dan jatuh samapai di kemudian saat bisa menemukan ‘resep’ bagaimana menjaga keseimbangan tubuh dan mengatur kecepatan sedemikian kita bisa bersepeda dengan nyaman dan aman. Itu semua, memerlukan latihan-latihan yang cukup.
Paralel dengan kisah belajar bersepeda di atas, untuk menjadi penulis yang baik, ketrampilan menulis harus terus diasah. Proses ‘jatuh dan jatuh’ di saat awal adalah lumrah. Contoh ‘jatuh dan jatuh’, seperti mulai dari sekadar dikritik teman sampai ditolak oleh redaktur untuk dimuat di medianya.
Dalam hal ‘jatuh-jatuh’ itu, -bisa dibilang- semua penulis pernah mengalaminya. Tanpa bermaksud mengecilkan hati para calon penulis, banyak cerita nyata, bahwa seseorang yang sekarang kita kenal sebagai penulis (terkenal), ternyata di saat-saat awal, sejumlah naskah/artikel yang dikirimnya tak langsung dimuat. Ada yang bercerita dimuat setelah mengirim lebih dari tiga puluh kali. Seseorang lainnya, setelah lebih dari tujuh puluh kali.
Semakin sebuah media cetak terkenal, maka kompetisi untuk menembusnya akan semakin ketat. Konon, sebuah koran nasional yang oplahnya sekitar setengah jutaan, tiap hari menerima sekitar seratus artikel setiap hari. Sementara, di tiap edisi, koran tersebut rata-rata hanya bisa memuat dua buah artikel dan bahkan kadang cuma satu artikel saja.
Sekali lagi, fakta di atas perlu diungkap, semata-untuk lebih meneguhkan komitmen kita bahwa dalam belajar menulis itu tahapan ‘jatuh dan jatuh’ adalah sesuatu yang biasa dan bahkan memang harus dilewati agar kita lebih matang, cerdas, dan arif.
Dengan demikian, ‘teori-teori’ yang akan diungkap segera setelah ini hanya sekadar bagi-bagi pengalaman dari seorang sahabat. Kelak, insyaAllah, Andapun akan punya pengalaman, yang -boleh jadi- serupa atau berbeda. Dari mana pengalaman itu? Tentu saja dari praktik menulis yang terus-menerus. Dari sebuah pembiasaan yang tiada henti.
Namun, pembiasan untuk terus menulis itu harus didasari pada sebuah niat yang benar. Tata niat kita dulu. Apa motivasi kita menulis? Demi idealismekah? Misal, untuk turut mencerdaskan bangsa dengan jalan memengaruhi opini publik. Ataukah, sekadar untuk meraih popularitas? Atau, sarana mencari uang? Tentu saja, pilihan motivasi itu akan berbanding lurus dengan ‘daya juang’ kita dalam (berlatih) menulis.
Apapun niat Anda, menjadi penulis itu pasti ‘kaya’, karena dia berposisi sebagai pemberi (ilmu/pengetahuan/gagasan). Dia pasti kaya wawasan, sebab aktivitas menulis mewajibkan dirinya untuk terus membaca. Kecuali itu, penulis juga berpeluang besar untuk kaya secara materi, dari honorarium atau royalti karya-karyanya.
Agar kaya wawasan, maka jadikanlah aktivitas membaca sebagai keseharian kita. Dan, memang, tulisan bagus biasanya akan lahir dari seorang pembaca yang rakus.
Jurus Jitu
Berdasarkan pengalaman, berikut ini sejumlah catatan yang bisa kita aplikasikan untuk belajar menulis artikel sekaligus kiat sukses menembus media (cetak).
A. Faktor Teknis
1. Buat “bank tema” tulisan. Ide tulisan -terutama jika kita sudah terbiasa menulis- akan datang mengalir deras. Nyaris, setiap yang kita baca, kita lihat, kita dengar, atau apa yang dialami orang lain, bisa menjelma menjadi ide yang menarik. Sungguh, ide bisa datang dari mana dan kapan saja. Ide bisa kita pungut dari koran, majalah, televisi, dan pengalaman (sendiri atau orang lain). Maka, usahakanlah untuk selalu membawa alat tulis. Segera tulis ide(-ide) yang kerap datang secara tiba-tiba.
Untuk artikel, ide harus orisinal, aktual, urgen, menawarkan wawasan baru, dan memberi solusi. Contoh: Saat naskah ini ditulis, untuk masalah perkotaan di Surabaya, bisa diangkat tema tentang semakin meningkatnya jumlah pelanggar lampu lalu-lintas di berbagai perempatan jalan. “Kepada para ‘Koruptor’ di Perempatan Jalan” bisa menjadi salah satu pilihan judul.
Sekali lagi, baca media cetak, ‘baca’ TV, ‘baca’ peristiwa di sekitar kita. Maka, pengetahuan kita akan bertambah, perbendaharaan kata semakin kaya, dan –yang paling penting- bisa mengail ide / tema tulisan.
Contoh:
* Baca media cetak, lahir: 1. Bisakah Gizi Buruk Picu Sadar Zakat (Jawa Pos 30/4/08). Urgensi Meneliti dan Menulis bagi Guru (Jawa Pos 26/3/08). 2. Habiburrahman sebagai Fenomena Penulis Kaya (Jawa Pos 3/3/08) 3.Ulama dan Relativisme Kaum Liberal (Jawa Pos 16/11/07) 4. Kontribusi Relativisme ke Aliran Sesat (Jawa Pos 23/11/07). 5. Hukuman Guru dan Mimpi Buruk Murid (Radar Surabaya, 21/2/08).
* ‘Baca’ media elektronik, lahir Tukul, “Kesehatan” Publik, dan KPID Jatim (Jawa Pos 2/3/07).
* ‘Baca’ peristiwa di sekitar, lahir Penutupan Jalan Vs Kepentingan Umum (Jawa Pos 13/7/06), Kantin Kejujuran, Pendidikan Antikorupsi (Jawa Pos, 6/11/2008), Ayat Cinta (Buletin Hanif 27/7/2007).
1. Buat judul yang mencerminkan tema. Judul yang baik, antara lain: a). Mampu mencuri perhatian pembaca. b). Mencerminkan tema / arah tulisan, sehingga bisa menjadi ‘miniatur’ isi keseluruhan tulisan. c). Ringkas dan padat.
Sebagai sarana berlatih, seringlah memerhatikan judul-judul artikel di berbagai media cetak. Misal: “Berhaji Sekali, tapi Berimplikasi Sosial”, Jawa Pos, 27 November 2007. “Hijrah Pemimpinku dan Bangsaku! ”, Jawa Pos, 26 Maret 2001. “Intelelektual, Artikel, dan Buku”, Jawa Pos, 20 Mei 2007. “Berhaji, Menjadi Abdullah Sejati”, Radar Surabaya,13 Desember 2005. ”Pemimpin Amanah dan Sekolah Ramadhan”, Radar Surabaya, 15 Oktober 2005. “Berani Mubahalah untuk Fatwa MUI?”, Radar Surabaya,12 Agustus 2005. “Din dan Wajah Muhammadiyah”, Radar Surabaya, 9 Juli 2005. “Quo Vadis Muhammadiyah”, Radar Surabaya, 30 Juni 2005. “Surga Pornografi Nomor Dua”, Jawa Pos,15 September 2004. ”Ekses Kampanye Kawin Beda Agama”, Jawa Pos, 27 Oktober 2002. “Apa Kabar ‘I’ di HMI?”, Jawa Pos, 1 Mei 2002. “Hidup Bersih Tanpa Gratifikasi”, Radar Surabaya, 8 November 2006.
1. Buat outline / kerangka karangan sebelum menulis secara lengkap. Berdasar ide / tema yang telah kita pilih, buatlah outline untuk memudahkan pengembangan penulisan. Pada dasarnya, alur menulis terangkai dalam:
Pertama, pendahuluan.
Pendahuluan berbentuk paparan ringkas dari masalah yang akan kita kupas. Untuk artikel, pendahuluan biasa pula disebut dengan lead. Posisi lead menempati alinea pertama. Fungsi lead: Penggugah rasa ingin tahu pembaca. Artinya, setelah terpikat oleh judul, pembaca dapat terus kita ikat minat bacanya sampai tuntas membaca keseluruhan tulisan. Pendek kata, lead mengantar pembaca ke gagasan utama sang penulis.
Ada tiga pilihan gaya lead. Langsung menyodok dengan serangkaian pertanyaan / pemaparan masalah. Atau, berupa kutipan ayat suci / hadits, buku, pernyataan orang. Atau, ringkasan tulisan kita.
Kedua, berisi pembahasan (berupa analisis atas masalah yang kita angkat). Pembahasan harus sistimatis, argumentatif, tuntas, ditulis dengan bahasa baku namun tetap dengan sentuhan popular.
Dan, ketiga, berisi penutup. Bagian ini memuat kesimpulan atau solusi atas masalah yang dikupas. Disajikan sekaligus dengan gaya pamit.
1. Tentang panjang tulisan. Perhatikanlah kebijaksanaan khas tiap media cetak dalam menerima artikel. Misal, tentang panjang tulisan yang kita kirim. Usahakanlah sesuai dengan “ketentuan” dari masing-masing media cetak. Secara umum, media membutuhkan artikel sepanjang 6000 karakter. Hanya saja, sejumlah media cetak ada meminta secara khusus. Di Radar Surabaya, misalnya, artikel yang diinginkan sekadar 4500 karakter.
Dua pihak sama-sama diuntungkan jika kita mengirim artikel sesuai dengan kebutuhan si media. Pertama, si redaktur beruntung karena dia tak memerlukan waktu editing yang lama. Kedua, si penulis diuntungkan karena kemungkinan si redaktur ‘salah gunting’ (karena alasan editing) ternihilkan.
1. Tentang ‘kelengkapan’ naskah. Terutama di masa awal “karir” kepenulisan, saat mengirim naskah jangan lupa untuk menyertakan semcam surat pengantar dengan menonjolkan, pertama, perlihatkan otoritas kita dalam menulis artikel dengan tema yang kita kirimkan itu. Lalu, tulislah -jika punya- pengalaman menulis sebelumnya (misal, pernah aktif di pers kampus saat masih mahasiswa atau tunjukkan media cetak mana saja yang pernah memuat tulisan kita). Jika belum punya, tak perlu berkecil hati. Kedua, lengkapilah dengan salinan kartu identitas kita. Sertakan pula foto, nomor kontak, dan nomor rekening bank (untuk pengiriman honorarium jika naskah kita dimuat). Kelak, jika sudah dikenal redakturnya, pengiriman naskah lewat email -biasanya- tak memerlukan lagi “lampiran-lampiran” tadi karena redaktur sudah punya arsip.
B. Faktor Non-Teknis
1. Secara umum, kenali karakter media yang akan kita kirimi artikel. Tiap-tiap media pasti memiliki “ciri khas” seperti dalam hal segmen pembaca, pilihan tema artikel, dan gaya bahasa. Caranya? Pelajarilah berita-berita dan artikel-artikel yang dimuat di berbagai media. Sekadar contoh, bandingkanlah berita dan artikel di Jawa Pos, Kompas, dan Republika.
2. Secara khusus, kenali ‘selera’ redaktur opininya. Dia suka tema-tema apa dan dengan ‘model’ penyajian seperti apa? Kadang, sekalipun di media yang sama, jika terjadi pergantian redaktur maka –sedikit atau banyak- akan mengubah pula “peta” kecenderungan artikel yang dimuat.
3. Pilih posisi, akankah menjadi penulis spesialis atau generalis. Untuk tahap awal, disarankan agar menulis artikel yang sesuai dengan otoritas keilmuan yang kita miliki. Kelak, jika kita mulai dikenal sebagai penulis yang potensial, maka bisa saja kita mulai untuk menulis tema-tema lain yang ‘berbeda’.
Ayo, Mulai!
Sekarang, tak perlu kita tunda-tunda lagi. Untuk (bisa) menulis, tak ada kiat yang paling manjur selain dengan apa yang dikenal sebagai “Tiga M”: mulai, mulai, dan mulailah!
Untuk itu, berikut ini (sebagian) daftar alamat email media cetak yang bisa kita kirimi artikel. Untuk Jawa Pos edisi nasional ke opini@jawapos.co.id. Untuk edisi metropolis ke metropolis@jawapos.co.id. Sementara, untuk Radar Surabaya ke radarsurabaya@yahoo.com.
Untuk Republika, silakan ke sekretariat@republika.co.id. Untuk Kompas edisi nasional bisa ke opini@kompas.com dan edisi Jawa Timur ke kompas@sby.dnet.net.id. Sementara untuk SURYA ke redaksi@surya.co.id. Lalu, untuk Surabaya Post ke redaksi@surabaya-post.info atau surabaya_post@yahoo.com.
Mari, menulis dan teruslah menulis! Warnai dunia dengan opini bernas kita. Warnai dunia dengan tulisan-tulisan kita yang mengajak sesama untuk berperadaban mulia. Jika, karena sesuatu dan lain hal media cetak belum memuat karya kita, kini media online memberi peluang sangat lebar sedemikian rupa tulisan-tulisan kita bisa dibaca oleh begitu banyak orang, misal lewat blog.
Ayo, berlomba-lombalah dalam kebaikan! Salam! []
Daftar Bacaan
Dunia Kata (Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian), M. Fauzil Adhim, DAR! Mizan, Bandung, 2004
Jurnalistik Dakwah, Sutirman Eka Ardhana, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, 1995
Jurnalisme Islam, Herry Muhammad, Pustaka Progressif, Surabaya, 1992
Kiat Menjadi Penulis Sukses, Abu Al-Ghifari, Mujahid Press, Bandung, 2002
Lincah Menulis Pandai Bicara, Asep Syamsul M. Romli, Nuansa Cendekia, Bandung, 2005
Menjadi Powerful Da’I dengan Menulis Buku, Bambang Trim, KOLBU, Bandung, 2006
Menulis Bisa Bikin Kaya, Helvy Tiana Rosa, Ziyad Visi Media, Jajar Laweyan, 2007
Panduan Membuat Karya Tulis, O. Setiawan Djuharie dan Suherli, CV Yrama Widya, Bandung, 2005
Teknik Penulisan Ilmiah Populer, Slamet Soeseno, Gramedia, Jakarta, 1997
Media Silaturrahim
Langganan:
Postingan (Atom)