Senin, 27 Desember 2010

Pelanggan Setia

Pelanggan adalah iklan berjalan. Jika Anda pernah mengalami sebuah pengalaman pelayanan atau produk yang menyenangkan dan baik. Saat mereka terpuaskan, niscaya ia akan bawa orang lain ke tempat itu.
be well,
Dwika-ExecuTrain




Tips Membuat Pelanggan Tetap Setia
By galeriukm

Dalam bisnis pelanggan menjadi raja yang akan menentukan keberlangsungan usaha anda. Upaya-upaya terus dilakukan dalam memuaskan pelanggan agar tetap setia menggunakan produk yang kita jual. Ada beberapa tips penting yang ayak dipertimbangkan dalam membuat pelanggan tetap setia pada produk kita.

Tips membuat pelanggan setia:
1. Produk
Produk yang unik, menarik dan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan produk lain cukup berperan dalam menentukan kesetiaan pelanggan. Jika produk anda sama dengan produk orang lain maka sulit untuk mempertahankan pelanggan.

2. Harga
Berapa harga yang ditawarkan? Ketahuilah, pelanggan pasti akan mencari harga yang lebih murah jika pelayanan, kualitas, dan produk yang ditawarkan sama saja. “Perbedaan harga itu penting. Jika Anda menjual produk seharga Rp 10.000 dan pesaing menjual dengan harga Rp 9.999, pasti akan berpengaruh. Tetapi jangan lalu jadi membiarkan terjadi persaingan harga terus menerus,” jelas perempuan yang sering dipanggil dengan nama Tami ini di acara Beautifying Indonesia, Martha Tilaar Group beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center.

3. Tempat
Dimana dan channel apa yang digunakan? Lokasi strategis dan kemudahan akses akan menjadi hal penting dan menyenangkan bagi pelanggan.

4. Promotion
Ketahui apa yang kira-kira akan membuat pelanggan bergairah untuk membeli barang Anda? Gimmick promosi akan menjadi hal yang menyenangkan bagi pelanggan. Pelanggan tentu akan menghitung value yang bisa ia dapatkan dari harga yang ia keluarkan.

5. Process
Seperti apa pelayanan Anda? Misal, jika Anda pemilik salon yang menyediakan pelayanan creambath yang urutan umumnya sudah jelas, tentu pelanggan yang datang ke tempat Anda juga mengharapkan proses pelayanan yang jelas dan memuaskan, kan? Pelanggan pasti kesal jika ternyata urutannya berantakan dan malah bikin pusing.

6. People
Siapa yang akan mengurus saya sebagai pelanggan? Bayangkan diri Anda sebagai pelanggan di sebuah salon. Tidakkah Anda akan mengharap bahwa orang yang mengurus Anda adalah orang yang kompeten, mengetahui apa yang dilakukannya, ramah, dan mengutamakan kenyamanan Anda? Sama seperti itu pula pelanggan lain mengharapkan pelayanan yang akan ia dapatkan .

7. Pace
Waktu adalah hal yang penting. Apalagi saat seperti sekarang ini. Pelanggan butuh pelayanan yang cepat. Siapa yang mau menunggu lama untuk dilayani? Penuhi kebutuhan pelanggan dengan waktu yang singkat.

8. Proof
“Pelanggan adalah iklan berjalan!” ujar Tami. Tak percaya? Coba ingat-ingat, jika Anda pernah mengalami sebuah pengalaman pelayanan atau produk yang menyenangkan dan baik, tidakkah Anda akan merekomendasikan kepada orang lain? Pelanggan butuh bukti. Saat mereka terpuaskan, niscaya ia akan bawa orang lain ke tempat itu.(Galeriukm).

Sumber:
http://female.kompas.com/read/xml/2010/10/01/12163138/8.p.yang.bikin.pelanggan.setia

Teamwork

Teamwork merupakan Managerial Skills: kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kinerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dan Interpersonal Skills: kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
be well,
Dwika-ExecuTrain




Teamwork !!!
oleh SUPRIYADI

Dalam dunia usaha, penggunaan teamwork seringkali merupakan solusi terbaik untuk mencapai suatu kesuksesan. Teamwork yang solid akan memudahkan manajemen dalam mendelegasikan tugas-tugas organisasi. Namun demikian untuk membentuk sebuah team yang solid dibutuhkan komitment tinggi dari manajemen. Hal terpenting adalah bahwa teamwork harus dilihat sebagai suatu sumber daya yang harus dikembangkan dan dibina sama seperti sumber daya lain yang ada dalam perusahaan. Proses pembentukan, pemeliharaan dan pembinaan teamwork harus dilakukan atas dasar kesadaran penuh dari team tersebut sehingga segala sesuatu berjalan secara normal sebagai suatu aktivitas sebuah teamwork, meskipun pada kondisi tertentu manajemen dapat melakukan intervensi.

Definisi Teamwork?

Secara umum teamwork dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Kumpulan individu-individu tersebut memiliki aturan dan mekanisme kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu sekumpulan orang yang bekerja dalam satu ruangan, bahkan didalam satu proyek, belum tentu merupakan sebuah teamwork. Terlebih lagi jika kelompok tersebut dikelola secara otoriter, timbul faksi-faksi di dalamnya, dan minimnya interaksi antar anggota kelompok.

Ketika seseorang bekerja didalam kelompok (team), akan ada dua isu yang muncul. Pertama adalah adanya tugas-tugas (task) dan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Hal ini seringkali merupakan topik utama yang menjadi perhatian team. Kedua adalah proses yang terjadi di dalam teamwork itu sendiri, misalnya bagaimana mekanisme kerja atau aturan main sebuah team sebagai suatu unit kerja dari perusahaan, proses interaksi di dalam team, dan lain-lain. Dengan kata lain proses menunjuk pada semangat kerjasama, koordinasi, prosedur yang harus dilakukan dan disepakati seluruh anggota, dan hal-hal lain yang berguna untuk menjaga keharmonisan hubungan antar individu dalam kelompok itu. Tanpa memperhatikan proses maka sebuah teamwork tidak akan memiliki nilai apa-apa bagi perusahaan dan hanya akan menjadi sumber masalah bagi perusahaan dalam pembentukan sebuah teamwork. Sebaliknya jika proses tersebut ada dalam sekumpulan orang yang bekerjasama, maka performance mereka akan meningkat karena akan mendapat dukungan secara teknis maupun moral.

Mengapa Teamwork Diperlukan?

Teamwork merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan dapat memberikan solusi inovatif suatu pendekatan yang mapan. selain itu ketrampilan dan pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota kelompok juga merupakan nilai tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dibandingkan seorang individu yang brilian sekalipun.

Sebuah team dapat dilihat sebagai suatu unit yang mengatur dirinya sendiri. Rentangan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki anggota dan self monitoring" yang ditunjukkan oleh masing-masing team memungkinkannya untuk diberikan suatu tugas dan tanggungjawab. Bahkan ketika suatu masalah tersebut dapat diputuskan oleh satu orang saja, melibatkan teamwork akan memberikan beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut adalah: pertama keputusan yang dibuat secara bersama-sama akan meningkatkan motivasi team dalam pelaksanaanya. Kedua, keputusan bersama akan lebih mudah dipahami oleh team dibandingkan jika hanya mengandalkan keputusan dari satu orang saja.

Bila dilihat dari perspektif individu, dengan masuknya ia kedalam suatu kelompok (team) maka hal tersebut akan menambah semangat juang/motivasi untuk mencapai suatu prestasi yang mungkin tidak akan pernah dapat dicapai seorang diri oleh individu tersebut. Hal ini dapat terjadi karena team mendorong setiap anggotanya untuk memiliki wewenang dan tanggungjawab sehingga meningkatkan harga diri setiap orang.

Siklus Hidup Sebuah Teamwork

Secara umum perkembangan suatu team dapat dibagi dalam 4 tahap:
Forming, adalah tahapan dimana para anggota setuju untuk bergabung dalam suatu team. Karena kelompok baru dibentuk maka setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu, bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung belum dapat memilih pemimpin (kecuali team yang sudah dipilih ketua kelompoknya terlebih dahulu).
Storming, adalah tahapan dimana kekacauan mulai timbul di dalam team. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua ngotot dengan pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara terbuka.
Norming, adalah tahapan dimana individu-individu dan sub-group yang ada dalam team mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari team tersebut dari kehancuran (bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota team. Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.
Performing. Tahapan ini merupakan titik kulminasi dimana team sudah berhasil membangun system yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan team akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.

Ketrampilan yang Diperlukan

Ada dua ketrampilan utama yang seharusnya dimiliki oleh anggota sebuah teamwork, yaitu:

* Ketrampilan managerial (Managerial Skills), termasuk kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kinerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dan lain-lain.
* Ketrampilan interpersonal (Interpersonal Skills), termasuk kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.

Dengan menjadi anggota suatu organisasi atau perusahaan maka secara tidak langsung Anda sudah menempatkan diri menjadi anggota sebuah teamwork. Nah, sudahkah Anda mempersiapkan diri dengan memiliki ketrampilan-ketrampilan seperti yang disebutkan diatas?
Diposkan oleh SUPRIYADI di 17.42

Ketahui diri Anda

"Anda yang mengetahui banyak hal, tetapi kurang mengetahui diri Anda,
pengetahuan Anda yang banyak itu belum bisa memberikan manfaat yang banyak."
be well,
Dwika-ExecuTrain




Tahu Diri !!!
oleh SUPRIYADI

Tahu Diri Itu Proses!
Istilah tahu diri ini memang kalimatnya mudah dan sederhana. Tetapi terus terang saja sulit dijelaskan seperti apa detail-nya. Sama seperti istilah orang baik. Kalimatnya sederhana dan mudah diucapkan oleh siapa saja, tetapi seperti apa orang baik itu bisa dibeberkan, tentu ini sulit. Sama juga istilah kehidupan yang baik dalam agama. Orang yang langkahnya baik dan punya amal perbuatan baik pada orang lain akan diberi hadiah berupa kehidupan yang baik yang menyedapkan pandangan mata. Meskipun tidak bisa dijelasan detailnya, tetapi perasaan kita sudah tahu itu.

Kenapa istilah tahu diri itu susah didetailkan? Salah satu sumber kesulitan itu adalah karena cakupannya yang sangat luas. Kalau dilihat dari penggunaannya sehari-hari, pengertian tahu diri dalam agama itu berbeda dengan tahu diri dalam ilmu pengetahuan (khususnya SDM atau Psikologi). Beda lagi dengan yang sering kita gunakan dalam pergaulan sehari-hari. Kalau kita minta sesuatu ke teman atau kenalan, lalu kita masih milih juga atau menuntut yang lebih baik lagi, ini namanya tidak tahu diri. Sudah minta nyuruh pula. Tahu diri di sini diartikan sebagai sikap atau prilaku yang "sensitive" menempatkan posisi orang lain dan posisi diri sendiri di tempatnya masing-masing.

Seorang pengusaha pernah mengatakan karyawannya yang bernama si A itu tidak tahu diri. Dulu dia pengangguran lalu diterima sebagai pegawai. Setelah tahu seluk beluk bagaimana menjalankan bisnis di kantor itu, eee malah pamit tidak bilang-bilang, plus membajak anak buahnya yang terampil dan membikin bisnis saingannya. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah menolong harimau yang sedang terjepit. Harimau yang kita tolong itu malah menerkam kita.

Tahu diri juga sering kita gunakan untuk menjelaskan prilaku seseorang yang tahu "diuntung". Lawannya adalah orang yang tidak tahu diuntung. Ini seperti yang dialami Ibu S yang saya saksikan dalam tayangan tivi. Dengan niat baiknya, Ibu ini ingin membesarkan salah satu anak jalanan yang sering mangkal di dekat kantornya. Kenangnya, anak itu kelihatan masih bersih, lugu, dan tidak tahu siapa orangtuanya. Tapi setelah besar, si anak yang dulu diasuhnya dengan susah-payah itu malah berbalik menjadi duri di dalam rumah tangganya. Si anak dibilang tidak tahu diri. Saking kesalnya, Ibu S berteriak dengan maksud berbagi pengalaman kepada masyarakat. "Jangan mengambil anak sembarangan atau karena kasihan. Mungkin saja dia bukan keturunan orang baik-baik."

Dalam agama, istilah tahu diri itu sering digunakan untuk menjelaskan sikap yang tidak sombong. Kesombongan seperti apa yang dimaksudkan? Kesombongan di sini maksudnya adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia (arogan). Kalau kita sudah tahu kebenaran tetapi kita menolaknya karena kebenaran-egoisme milik kita, namanya kesombongan. Begitu juga kalau kita sudah merasa "lebih" dari orang lain lalu perasaan itu kita gunakan untuk merendahkan mereka, namanya kesombongan. Kesombongan identik dengan ketidaktahun-diri.

Nah, dalam konsep dan praktek pengembangan SDM, tahu diri itu punya pengertian yang lain lagi. Tahu diri di sini diartikan sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam mengetahui kelebihan dan kekurangannya lalu menggunakan semua itu untuk meraih prestasi di bidang-bidang yang dipilih. Tahu diri juga digunakan untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam memahami peluang untuk maju atau kemampuan seseorang dalam memahami masalah yang menghambat langkahnya. Tahu diri di sini mengarah pada pengertian pengetahuan-diri (self-knowledge).

Jadi, secara keseluruhan, tahu diri sini terkait dengan sejauhmana seseorang itu mampu mengaktifkan kapasitas intelektual, emosional, dan spiritualnya secara proporsional sehingga mampu memahami etika kepatutan, mampu menerapkan ajaran moral, dan mampu menjalankan agenda aktualisasi potensi-diri. Tentu saja, karena ini luas cakupannya, maka tidak ada orang yang punya pengetahuan-diri sampai ke tingkat yang sempurna dan sudah final. Pengetahuan-diri adalah proses yang terus dinamis sampai kita meninggal.

"Kau kira dunia di luar dirimu itu luas, padahal dunia di dalam dirimu itu jauh lebih luas." (Ali Bin Abu Thalib)

Intrapersonal Skill
Teori pengembangan SDM industri mengenal istilah intrapersonal skill yang kerap digunakan untuk menjelaskan apa itu pengetahuan-diri (self-knowledge). Disebut skill berarti itu adalah hasil yang didapat berdasarkan pencapaian individu (achieved). Meskipun ada juga yang menyebutnya dengan intrapersonal intelligence, namun maksud intelligence di situ bukan kecerdasan bawaan, melainkan hasil pemberdayaan (new construct). Ada yang menyebutnya juga sebagai cara belajar yang paling pas untuk individu, the way the people can learn best.

Apa itu intrapersonal? Menurut Howard Gardner (Frames of Mind: 1983), intrapersonal (skill / intelligence) adalah sensitivitas seseorang terhadap perasaannya, keinginannya, pengalaman hidupnya atau sensitivitasnya terhadap "hal-hal" yang mengancam dirinya. Sensitivitas di sini maksudnya lebih dekat pada pengertian sejauhmana orang itu mengetahui, menyadari dan bisa menggunakan "hal-hal" tersebut sebagai bahan pembelajaran-diri. Termasuk dalam pengertian ini adalah kesadaran seseorang terhadap kekuatan, kelemahan, rencana, dan tujuannya. Semakin bagus skill seseorang di beberapa hal ini kira-kira akan semakin akuratlah pengetahuannya.

Sama seperti Howard Gardner, Microsoft Education menjelaskan bahwa yang disebut intrapersonal itu adalah kesadaran seseorang terhadap bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahannya. Bedanya, Microsoft punya penyekalaan. Alasannya, semua orang sedikit-banyaknya punya pengetahuan tentang dirinya, tetapi yang berbeda adalah levelnya. Soal level ini penjelasannya sebagai berikut:

LEVEL


INDIKATOR UMUM

Level 1


Anda baru mengetahui bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahan anda.

Level 2


Anda menyadari bakat, kemampuan, peluang, kekuatan, keterbatasan dan kelemahan anda. Anda bisa memperkirakan berbagai bentuk kemampuan / kelemahan yang paling mungkin, dan bisa mensinergikannya dengan orang lain pada momen yang tepat. Anda melakukan proses pembelajaran untuk meningkatkan skill atau pengetahuan anda.

Level 3


Anda sudah mengidentifikasi motif, harapan, kecenderungan, keinginan, dan kebutuhan secara akurat. Anda sudah punya gambaran yang jelas tentang diri anda (kemampuan, kelebihan atau bakat anda). Anda berusaha menggali feedback dengan berkreasi, terbuka terhadap kritik, terbuka menerima masukan perbaikan. Anda sudah bisa mendeklarasikan kelebihan dan kelemahan anda secara fair. Anda sudah bisa menghindari penudingan (blaming) atas apa yang menimpa anda atau kesalahan anda.

Level 4


Anda sudah bisa mengajari / membimbing orang lain untuk menemukan dan menggali potensi mereka.

Bagi banyak orang, memang standar yang ditetapkan Microsof itu terasa ketinggian. Maklum saja. Mungkin itu bukan untuk umum, tetapi untuk karyawan mereka. Sebab, kalau kita melihat ke masyarakat umum, banyak orang yang tidak tahu kelebihannya atau merasa tidak punya kelebihan apa-apa. Mereka hanya mengetahui kelemahan atau kekurangannya. Kata Robbin S. Sharma, kebanyakan orang sudah mati begitu usianya masuk duapuluh tahun dan baru dikebumikan nanti ketika usianya sudah di atas enam puluh tahun. Mati di sini sudah tahu dong apa maksudnya. Kalau kita sampai gagal mengungkap apa kelebihan dan keunggulan kita, itu sama saja kita mati dalam tanda kutip.

Ada lagi yang sudah tahu tetapi tidak mau dan tidak mampu menggunakannya. Misalnya saja tidak memiliki komitmen, fokus, dan semangat belajar (learning). Atau juga lebih mengarahkan fokus pikirannya pada masalah, bukan pada peluang atau tujuan. Ada lagi yang angot-angotan atau tidak jelas. Punya banyak keinginan tetapi usahanya minim. Menurut Jenderal Soemitro, kehebatan Pak Harto (sebagai pribadi) itu adalah keinginannya yang sederhana dan perjuangannya yang luar biasa.

Ada lagi yang sudah tahu dan sudah menggunakannya, tetapi cara yang ditempuh, tujuan yang ingin diraih, atau motif yang menggerakkannya negatif. Jadilah dia orang yang hebat tetapi kehebatannya itu menelan korban (merugikan atau mencelakakan orang banyak). Ada lagi yang menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri. Sejauh itu proporsional tentu masih bisa dibilang cukup baik, namun tentu belum sampai ke yang terbaik.

Nah, yang perlu kita jadikan acuan adalah: kita mengeksplorasi berbagai kelebihan, menggunakannya untuk merealisasikan target positif, menempuh cara yang benar atau tidak melanggar, dan tidak semata-mata kita niati untuk kepentingan diri sendiri. Jadi, sasaran idealnya adalah beraktualisasi untuk berkontribusi. Kalau kita hanya beraktualisasi, memang sudah baik namun belumlah yang terbaik. Sebaliknya, kalau kita ingin berkontribusi tetapi tidak beraktualisasi, ini tidak realistis juga atau tidak tahu diri.


Refleksi Lima Kelompok Manusia *

1. Manusia yang tidak tahu atau tidak mau tahu apa kelebihan dan apa keinginannya. Mereka menginginkan agar orang lain atau Tuhan menghendaki sesuatu untuk dirinya. Mereka ini termasuk pecundang yang kalah.
2. Manusia yang tahu dan mau tahu tetapi tidak tahu atau tidak mau tahu cara yang harus ditempuh. Mereka ini termasuk orang yang frustasi
3. Manusia yang sudah tahu dan tahu cara yang harus ditempuh tetapi ujung-ujungnya tidak mau melakukan. Mereka ini termasuk yang merugi
4. Manusia yang sudah tahu kelebihan dan keinginannya, tahu cara untuk mendapatkannya, dan sudah menggunakan cara itu, tetapi semangatnya setengah-setengah. Mereka ini termasuk pemalas
5. Manusia yang sudah tahu, tahu cara untuk mendapatkannya, dan sudah menggunakan cara dengan semangat yang tinggi atau selalu berusaha untuk membuat semangatnya menyala terus. Mereka ini termasuk orang yang beruntung.

*) Dari berbagai sumber

"Peranan Anda lebih menentukan ketimbang kecerdasan yang Anda miliki"
Howard Gardner


Lima Acuan
Sebetulnya ada acuan yang lebih lengkap mengenai pengetahuan-diri itu. Ini bisa kita lihat di The Bar-on Model of Emotion-Social Intelligence (2000). Pengetahuan-diri di sini punya cakupan sebagai berikut:

1. Self-Regard: punya persepsi, punya pemahaman, dan punya penerimaan yang akurat. Tanda-tandanya adalah tidak minder dan tidak over; tidak rendah-diri dan tidak pula tinggi hati; tidak inferior dan tidak superior.
2. Emotion Self-Awareness: punya kesadaran terhadap berbagai emosi yang muncul di dalam dirinya. Tanda-tandanya adalah punya kemampuan dalam menangani stress atau menggunakannya untuk hal-hal positif, tidak menanggapi secara berlebihan (reaktif) terhadap kesenangan atau kesedihan, tetap bisa fokus pada hal-hal positif di tengah kekacauan atau kemapanan.
3. Assertiveness: punya kemampuan mengekspresikan perasaan secara konstruktif dan efektif. Tanda-tandanya adalah mampu memikirkan dan memilih kalimat atau ungkapan yang bagus dan kuat dalam berkomunikasi atau mengkomonikasikan sesuatu kepada orang lain.
4. Independence: punya kematangan dan keberlimpahan emosi, bahagia pada dirinya (self-worth) atau punya kemandirian mental (pede). Tanda-tandanya adalah tidak mudah tertusuk perasaannya oleh orang lain, tidak mudah merasa merana, rasional dalam menyelesaikan persoalan, tidak mudah terbuai oleh hal-hal yang menipu, atau punya locus of control ke internal.
5. Self-Actualization: punya tujuan yang terus direalisasikan dengan mengembangkan potensinya. Tanda-tandanya adalah memiliki langkah hidup yang dinamis (bergerak menuju ke yang lebih bagus, lebih tinggi, lebih besar, lebih mendalam, lebih bermanfaat, dst), punya kemauan belajar, berani bereksperimentasi ide-ide baru, tetap memiliki perhitungan, membutuhkan orang lain namun tidak mengandalkan mereka.

"Orang yang mengetahui banyak hal, tetapi kurang mengetahui dirinya,
pengetahuan yang banyak itu tidak bisa memberikan manfaat yang banyak."
(Petuah Bijak)
Diposkan oleh SUPRIYADI di 17.24

Mengubah diri

"Jika Anda berhasil mengubah diri, maka realitas di luar diri Anda akan berubah."
be well,
Dwika-ExecuTrain




End to End on Networking
oleh SUPRIYADI

Tiga Manfaat Kunci

Masalah networking ini memang sudah sering kita angkat di sini. Tetapi, karena cakupannya sangat luas, maka tetap saja kita butuh beberapa insight kecil yang relevan dengan praktek hidup kita. Kalau melihat arti dasarnya, network itu adalah istilah yang dikaitkan dengan jaringan dalam sebuah sistem yang mengandung kesaling-terkaitan. Ini kemudian berkembang aplikasinya ke wilayah hubungan antar manusia. Menurut Aman Motwane (2002), network itu sejatinya bukan semata soal "connecting-to" (hanya kenal, hanya tahu, hanya bersapaan), tetapi sudah melangkah ke "connecting-with", ada urusan yang saling mengkaitkan antar individu atau antar organisasi.

Dalam prakteknya, penerapan istilah network ini lebih sering pada hubungan manusia dengan latar belakang kepentingan bisnis, kerja, profesi, atau hubungan berdasarkan peranan. Kemampuan membuka, mempertahankan, dan mengatasi masalah yang muncul dalam networking dipandang sebagai salah satu kunci penting untuk melancarkan urusan kita di bidang-bidang itu.

Dunia bisnis sudah membuktikan bahwa network itu sama nilainya dengan produk yang kita hasilkan. Kalau kita hanya punya produk, tetapi tidak punya jaringan untuk memasarkannya, lalu untuk siapa produk itu? Secara umum, network itu mengandung tiga manfaat kunci di bawah ini:

Pertama, untuk mendapatkan informasi yang spesifik dan personal. Biasanya, informasi seperti ini jauh lebih OK. Kalau Anda mencari informasi pekerjaan yang untuk publik, itu bisa Anda temukan di koran, internet, atau kantor pemerintah. Secara teori, informasi untuk publik itu OK juga, tetapi dalam prakteknya seringkali tidak OK. Anda lebih cepat mendapatkan pekerjaan di kantor anu kalau Anda punya kenalan orang-orang tertentu atau melalui orang tertentu.

Kedua, untuk menambah power personal. Dalam teori power, power itu sedikitnya ada empat dan keempat-empatnya terkait dengan kemampuan kita dalam ber-networking. Keempat power itu adalah:

1. Legitimate power atau otoritas,
2. Information power
3. Expert power, misalnya pengetahuan, keahlian, pengalaman, dan
4. Personal power. Semakin luas network yang kita miliki, semakin bagus power yang kita miliki.

Ketiga, untuk menambah solusi. Anda bisa menagani banyak tugas, bisa merealisasikan banyak gagasan, dan bisa menyelesaikan banyak masalah, sejauh Anda memiliki network dengan beberapa orang yang bisa Anda ajak bersinergi atau bekerjasama atau bisa Anda mintai bantuan. Kemampuan Anda dalam menciptakan solusi akan bertambah seiring dengan bertambahnya kualitas network yang Anda bangun.

Dalam literatur keilmuannya, kemampuan ber-network ini termasuk kemampuan sosial (social skill) atau ada yang menyebutnya dengan istilah emotional skill. Studi di bidang parenting membuktikan bahwa orang dewasa yang dulunya mendapatkan pendidikan yang cukup untuk melatih kemampuan sosialnya, ternyata jauh lebih mampu berprestasi di bidangnya.

"Pada tahun 2020, kebanyakan atasan di negara maju adalah "diri sendiri"
(Nicholas Negroponte)

Masalah Umum Dalam Networking
Semua orang sudah tahu bahwa untuk mengembangkan berbagai bentuk kemampuan sosial itu pasti tidak mudah. Ada sekian masalah yang muncul dan itu jika tidak diatasi secara positif, memang benar-benar akan menghambat. Di antara sekian masalah itu adalah adanya orang-orang yang sulit. Dalam teori hubungan, yang termasuk orang-orang sulit itu antara lain:

1. Orang yang maunya menang sendiri atau suka mengorbankan orang lain
2. Orang yang amarahnya tinggi
3. Orang yang suka merendahkan orang lain (sombong atau arogan)
4. Orang yang keras kepala, anti dialog
5. Orang yang opininya selalu negatif atau suka menebarkan semangat negatif
6. Orang yang selalu ingin ikut campur terlalu dalam ke urusan orang lain
7. Orang yang kerdil, maunya untung duluan tetapi tidak mau berjuang
8. Orang yang terlalu sensitif atau mudah tersinggung secara tidak rasional
9. Orang yang hatinya keras seperti batu sehingga tidak mau peduli sama orang lain
10. Orang yang mencelakakan kita, menipu, menjerumuskan, dll.

Selain kita harus menghadapi orang-orang sulit itu, kita pun terkadang harus menghadapi keadaan yang sulit. Ini misalnya seperti yang digambarkan oleh Thomas Harris (Understanding People, 1977) berikut ini :

* Kita OK tetapi orang lain tidak OK (I am OK you are not OK)
* Kita tidak OK tetapi orang lain OK (I am not OK you are OK)
* Kita tidak OK dan orang lain tidak OK (I am not OK you are not OK)
* Kita OK dan orang lain OK (I am OK you are OK)

Bahkan kalau melihat realitas yang ada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya, penggambaran Harris di atas masih perlu ditambah dengan satu lagi, yaitu keadaan eksternal. Kemacetan fisik dan kesemrawutan kepentingan sosial di kota-kota besar menjadi masalah hidup sendiri.

Masalah lainnya lagi misalnya persoalan biaya dan waktu. Kita semua sudah tahu bahwa untuk membangun network itu sama sekali tak cukup hanya bermodalkan keinginan dan semangat. Butuh dana dan alokasi waktu yang cukup juga. Meskipun itu bisa kita sesuaikan berdasarkan keadaan dan kebutuhan, tetapi intinya tetap dibutuhkan.

Terkadang kita juga harus menghadapi sekat kultur atau sekat psikologis antara kita dengan orang yang akan kita temui itu. Misalnya saja dia tidak mau diganggu, alasan sibuk, gengsi, segan, curiga, punya persepsi negatif lebih dulu, komunikasi yang tidak nyambung, dan lain-lain. Kalau Anda menjajakan gagasan yang mestinya itu ditangkap oleh seorang yang berkapasitas pimpinan dalam perusahaan, tetapi itu Anda kemukakan kepada orang yang kapasitasnya staff, hampir pasti gagasan Anda ditolak. Masih untung kalau ada staff yang bilang nanti akan dibicarakan dengan pimpinannya atau minta proposal tertulisnya lebih dulu.

Cuma, persoalannya bukan apakah itu mudah atau susah kita jalankan. Persoalannya adalah: mudah atau susah, itu harus kita lakukan karena memang itu kita butuhkan. Sejauh yang kita inginkan itu adalah meningkatkan prestasi, di bidang apapun itu, pasti kita butuh membangun network dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat yang sudah kita bahas di muka. Karena itu, yang terpenting di sini adalah menemukan berbagai bentuk penyiasatan.

"Satu-satunya rumus yang paling penting bagi kemajuan seseorang
adalah mengetahui bagaimana berhubungan dengan orang lain"
(Dale Carnegie)

Berbagai Penyiasatan
Apa saja penyiasatan yang bisa kita lakukan? Sebagian dari sekian yang bisa kita lakukan itu, antara lain:

1. End for End & End to End
End for End maksudnya adalah Anda menemui orang untuk tujuan tertentu dan berhenti hanya sampai pada tujuan itu. End for End maksudnya adalah Anda ingin menemui seseorang dan hanya orang itu yang menjadi target tujuan Anda. Sedangkan End to End maksudnya adalah Anda melibatkan diri ke dalam berbagai aktivitas agar Anda bisa bertemu dengan sejumlah orang yang sesuai dengan keinginan Anda. Anda bertemu dengan orang supaya Anda bisa bertemu dengan orang lain lagi. Tehniknya mungkin bisa melalui jaringan yang sudah ada, pergaulan yang sudah ada, orang yang sudah Anda kenal, masuk asosiasi atau organisasi tertentu, dan lain-lain. Menurut Rupert Hart (1997), cara kedua itu biasanya lebih manjur ketimbang yang pertama.

Kalau melihat ke prakteknya, membangun network itu sama seperti orang memelihara pohon kesayangan. Jika kita rawat dengan bagus, maka pohon itu secara alamiah akan menghasilkan buah secara alamiah dan akan menghasilkan anak secara alamiah pula. Itulah kenapa ada yang menyimpulkan bahwa network melahirkan network, seperti cara kerja sel. Jika Anda mengenal satu orang yang benar-benar mengenal Anda tentang apa yang Anda kuasai, maka orang itu akan memperkenalkan Anda kepada orang lain juga. Memang ini tidak secara otomatik akan begitu realitasnya, tetapi prinsipnya pasti begitu.

2. Eksplorasi Secara Teratur
Untuk menyiasati berbagai persoalan di lapangan, seperti yang sudah kita bahas di muka, lakukan eksplorasi ke berbagai orang, tetapi harus teratur. Maksudnya, perlu kita sesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan, keinginan, dan keadaan. Jangan sampai terlalu bernafsu atau ekspansi lepas kendali, tetapi juga jangan terlalu masa bodoh. Kita perlu ingat bahwa tujuan kita membangun network bukan sekedar untuk mengumpulkan kartu nama. Tujuan kita adalah untuk memperbaiki diri, dari berbagai sisi yang mungkin, agar kita memiliki kontribusi yang lebih besar bagi kehidupan kita dan orang lain.

Syarat agar kita bisa bereksplorasi secara teratur itu minimalnya ada dua, yaitu: pertama, menjadi learner yang bebas dari persepsi negatif atau persepsi yang membelenggu langkah kita terhadap orang lain. Memang ini hak kita juga, tetapi untuk kepentingan eksplorasi, ya tidak ada salahnya juga kalau kita mengenal orang yang berbeda agama, berbeda suku, berbeda profesi, berbeda mindset, dan lain-lain. Mengenal banyak keragaman itulah yang membuat pikiran kita semakin cair.

Kedua, perlu memiliki pondasi personal yang jelas. Kita tetap menjadi diri sendiri meskipun kita tetap berbaur dengan berbagai macam manusia. Kita tetap fokus pada apa yang kita perjuangkan, meskipun kita tetap bertoleransi dengan berbagai kepentingan.

* Labelisasi Internal

Label di sini adalah isyarat tertentu yang kita tangkap dari hasil bacaan kita terhadap orang lain. Meskipun secara moralnya kita tidak boleh mengatakan si A itu jahat, suka memanfaatkan orang, dan lain-lain, tetapi memang prakteknya di dunia ini ada orang yang seperti itu. Demikian juga di dunia ini pasti juga ada orang yang baik dan bisa menghormati kita. Nah, eksplorasi yang kita lakukan itu sebaiknya berguna untuk memperkaya label-label atau pemahaman kita tentang manusia. Tetapi, jangan sampai malah mempersempit hidup kita dan jangan menggunakannya hanya untuk menjelek-jelekkan, lebih-lebih sudah mengarah pada perbuatan makar atau ghibah.

* Seleksi Secara Proporsional

Dari sekian orang yang telah kita kenal, entah langsung atau tidak langsung, dengan berbagai label yang sudah kita miliki, idealnya kita perlu membuat semacam seleksi pribadi. Ada orang yang memang cocoknya itu hanya untuk berteman, hanya untuk berbisnis, hanya untuk mengerjakan sesuatu, atau ada juga yang relatif cocok untuk berbagai macam urusan. Ini memang terkait dengan pengetahuan, kemampuan, kepentingan, atau proses waktu. Di sinilah pentingnya seleksi itu.

* Up-grade Kualifikasi Anda

Kualifikasi di sini mencakup moral, mental, personal, dan berbagai macam bukti pengembangan diri yang bisa kita lakukan. Kalau kita sudah menjadi orang yang lebih baik, memang tidak secara otomatik akan mempertemukan kita dengan orang yang baik. Biasanya, ini keadaan yang sifatnya temporer. Tetapi, syarat untuk bisa menjalin network dengan orang-orang baik, kita harus memperbaiki diri lebih dulu.

"Jika kamu berhasil mengubah dirimu, maka realitas di luar dirimu akan berubah."


Diposkan oleh SUPRIYADI di 17.36

Konsep yang sederhana

Anda jalani hidup sederhana justru yang paling sulit (The simplest is the most difficult). Formula Paretto (20:80). Dua puluh persen hal yang jelas dan delapan puluh persen untuk hal yang tidak jelas. Konsep yang sederhana justru yang bekerja dengan efektif.
be well,
Dwika-ExecuTrain




Simple itu Sulit ....
oleh SUPRIYADI

Salah satu bentuk paradok yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah kenyataan di mana menjalani hidup sederhana (mudah) justru yang paling sulit (The simplest is the most difficult). Padahal kenyataan juga menunjukkan bahwa biasanya konsep yang sederhana lah justru yang bekerja dengan efektif. Konsep yang ruwet, acak-acakan, njelimet justru seringkali bernasib mandul dan menelan banyak biaya. Kita bisa buktikan jumlah waktu dan biaya pulsa telephone yang kita gunakan untuk hal yang jelas dan hal yang tidak jelas. Bisa-bisa berlaku formula Paretto (20:80). Dua puluh persen untuk hal yang jelas dan delapan puluh persen untuk hal yang tidak karuan. Mengapa hal demikian ini bisa terjadi?


Hambatan
Mudah sekali kita terjebak dalam pola hidup yang tidak sederhana. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya. Pertama, adalah persepsi lingkungan di mana kesederhanaan berpikir, bersikap, dan dan bertindak dianggap sebagai kelemahan. Bentuk kelemahan yang mewakili persepsi demikian adalah terlalu sembrono, menyepelekan atau miskin. Padahal seperti pepatah leluhur bilang, sederhana bukan berarti miskin tetapi tepat sesuai kebutuhan. Sederhana berpikir dan bersikap juga berbeda dengan sembrono. Berpikir dan bersikap sederhana lahir dari kematangan dan kedalaman pengetahuan/ pemahaman seseorang tentang diri dan wilayahnya sehingga lebih tepat dikatakan sebagai keunggulan. Sementara sembrono lahir dari kedangkalan yang berarti kelemahan.
Alasan kedua adalah kualitas-diri. Kualitas diri yang rendah bisa jadi merupakan hambatan utama bagi kesederhanaan. Sebagian di antaranya dapat kita uraikan
sebagai berikut:

1. Kecenderungan Liar
Sulit memiliki pola hidup sederhana kalau kita tidak mampu menjinakkan kecenderungan yang ingin memperluas wilayah secara liar atau dengan kata lain terlalu serakah untuk menekuni banyak hal sekaligus sementara satu hal belum lagi tuntas. Justru yang lebih banyak kita butuhkan adalah mendalami wilayah. Kita perlu belajar dari kehidupan orang sukses yang rata-rata memulai sesuatu dari satu hal tertentu, baru meluas ke wilayah atau hal berikutnya. Bahkan ada isyarat bahwa perluasan wilayah itu hanya side-effect dari kedalamannya. Contoh: dari sukses di bisnis kemudian di tarik ke politik, sosial, dll.


2. Ketidakpuasan
Kecenderungan liar di atas tidak bisa dipisahkan dari unsur ketidakpuasan di dalam diri sang. Seperti yang pernah di tulis oleh Swenson ("Creating White Space in your life", Kathy Paauw: 2002), bahwa ketidakpuasan merupakan penyebab yang menghalangi orang untuk hidup sederhana. Ketidakpuasan di sini diartikan kehilangan margin - space yang kosong untuk membedakan space hidup yang lain. Ketidakpuasan identik dengan ketidakmampuan menciptakan rasa bahagia di dalam. Padahal kebahagian adalah kunci.


3. Rendah Diri
Kemungkinan yang paling dekat mengapa orang tidak merasa bahagia dengan dirinya adalah karena adanya rasa rendah diri (Inferioritas). Orang yang punya merasa rendah diri akan mudah terjebak dalam pola hidup yang tidak sederhana dengan cara menipu diri -self deception (Hamacheck: 1987). Praktek hidup yang mudah dikenali dari orang-orang yang rendah diri adalah:

* mengurangi tanggung jawab (taking credit) atau minimalistis,
* terlalu mementingkan diri sendiri (self ego) karena rasa takut,
* beranggapan bahwa orang lainlah yang harus berubah,
* menolak tanggung jawab hidup untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Karakteristik
Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa memiliki pola hidup sederhana. Beberapa esensi yang menjadi ciri khas pola hidup sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:


1. Keputusan

Esensi ini dapat membedakan antara sederhana, sembrono, terlalu berhati-hati atau bentuk pola pikir, sikap, dan perilaku yang berlebihan lainnya. Kesederhanaan adalah kemampuan menentukan keputusan hidup berdasarkan pada fakta optimal yang nyata dan efektif. Keputusan hidup yang lebih banyak didasarkan pada muatan perasaan pribadi atau ikut-ikutan seringkali tidak sederhana, irrational dan dibumbui muatan 'mestinya'. Padahal keputusan harus menjadi solusi pada persoalan yang bermuataan "kenyataannya".
Keputusan yang lahir dari kedangkalan pengetahuan dan pemahaman fakta optimal seringkali bukanlah ketukan palu pengadilan solusi melainkan awal dari suatu masalah. Dan sudah menjadi titah alam, persoalan apapun akan menjadi sederhana apabila diterima oleh orang yang berada dalam kapasitas mengambil keputusan. Sederhana di sini berarti jelas antara YA & TIDAK. Orang yang tidak jelas keputusannya (ketidaksederhanaan) akan rentan terhadap berbagai kafatikan, frustasi yang bisa merembet pada stress, konflik dan lain-lain (Bradford dalam Living simply in complex world: 1998 )

2. Kekokohan

Esensi kedua adalah kekokohan pondasi personal yang berisi kejelasan (clear-cut) tujuan & fokus. Seseorang baru bisa berpikir, berbuat dan bersikap sederhana kalau dirinya sudah jelas melihat wilayah di mana ia berdiri. Dengan usia dunia yang makin tua ini dipastikan semakin banyak distraksi dan godaan yang membuat kita mudah mengatakan YA atau pun TIDAk di luar konteks wilayah hidup kita yang sebenarnya. Pondasi inilah yang menjadi sekat personal (Lihat artikel: Membuat Sekat Pembatas). Banyak persoalan kemanusiaan timbul dari sekat personal yang hilang. Mestinya sekat kita dengan orang lain adalah saling membantu tetapi ketika kita langgar dengan tindakan intervensi, misalnya saja, maka hilanglah kesederhanaan itu.


3. Kemanunggalan

Berdasarkan The law of natural fixation (keteraturan alamiyah), dunia ini satu dan menyatu antara sekian objek yang kelihatannya di tingkat permukaan terpisah. Kita menyatu dengan dunia di luar kita. Kita akan dapat menjalani hidup dengan kesederhanaan kalau kita sudah dapat menyatukan sekat yang terpisah dalam bentuk pemahaman dan pemaknaan. Pemimpin perusahan akan sederhana ketika seluruh urusan usaha yang kelihatannya terpisah berakhir di meja kerjanya yang satu. Sebaliknya akan tidak sederhana apabila laporan tentang keadaan di lapangan yang terpisah tidak menyatu di mejanya.


Beberapa Kiat

Ada banyak cara untuk memulai hidup sederhana. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah 'tip guideline' yang dikemukakan oleh Julie Jordan Scott ( 2000) sebagai berikut:

1. Merumuskan Tujuan Hidup dan Cara Mencapainya

Kita bisa membuat rumusan hidup dengan formula sederhana, yaitu Formula SMART:

* Jelas (spesific),
* Terukur, punya padanan fisik (measurable),
* Bisa dicapai (attainable),
* Relevan (relevant)
* Ada tahapan waktu (time-based)

2. Mengidentifikasi dan Menyeleksi

Untuk bisa hidup sederhana maka diperlukan kemampuan dalam mengidentifikasi dan menyeleksi bentuk distraksi, toleransi, dan dukungan yang menyangkut obyek berikut:

* Barang. Survey menunjukkan bahwa perusahaan membuang banyak biaya pada peralatan teknologi yang mestinya belum perlu sehingga hilanglah dimensi kesederhanaan hidup di dalamnya (Progressive Leadership: 2002).
* Keadaan. Tidak semua keadaan membutuhkan response dari kita. Ada yang perlu dilupakan dan diselesaikan.
* Cara. Tidak semua pekerjaan harus ditangani sendiri tetapi tidak semua bisa didelegasikan. Ada kalanya - seperti digariskan teori manajemen - to spend money in order to save time atau to spend time in order to save money.
* Masa Lalu. Dari sekian lembar masa lalu, ada yang masih bisa kita gunakan landasan merumuskan masa depan dan juga ada yang sama sekali tidak berguna.

Solusi yang ditawarkan Julie di atas dapat kita lengkapi dengan menaati saran para ahli lain yaitu menulis rumusan tujuan hidup, hasil identifikasi dan seleksi di atas kertas putih (agenda harian). Memang ada benarnya, justru menulis sesuatu yang kelihatannya nyata, mudah, dan dekat dengan diri kita itulah yang terkadang dirasakan sulit. Oleh karena itu tetap dibutuhkan pembelajaran-diri. Mudah-mudahan bisa direnungkan.

Realisasikan Tujuan Anda

Tentukan kapan Anda dapat bekerja untuk merealisasikan tujuan Anda. Kemudian bertindaklah dengan penuh optimisme dan singkirkan sikap pesimisme.
Jika gagal, pelajari penyebabnya. Jangan mengubah tujuan hanya karena gagal.
Bekerja samalah dengan orang-orang yang dapat membantu Anda. Jangan meluangkan waktu tanpa berbuat sesuatu.
be well,
Dwika-ExecuTrain





Ambisi "Yes" Ambisius "No"
oleh SUPRIYADI

Manusia butuh ambisi untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ambisi mempengaruhi sikap mental positif pada diri seseorang. Pada dasarnya, ambisi memang bagus, selama dapat dikendalikan dengan baik. Jika tidak, Anda akan menjadi seorang yang ambisius.

Patut dicatat, ambisius memiliki arti berbeda dengan ambisi. Umumnya, mereka yang ambisius memiliki minat dan keinginan yang menggebu-gebu pada suatu bidang. Dan biasanya mereka berperilaku egois dan menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan sekaligus mengendalikan ambisi?

A. Miliki tujuan yang jelas, dan mengaculah pada tujuan tersebut dengan kemauan yang tinggi.

B. Tentukan kapan Anda dapat bekerja untuk merealisasikan tujuan Anda. Kemudian bertindaklah dengan penuh optimisme dan singkirkan sikap pesimisme.

C.Jika gagal, pelajari penyebabnya. Jangan mengubah tujuan hanya karena gagal.

D. Bekerja samalah dengan orang-orang yang dapat membantu Anda. Jangan meluangkan waktu tanpa berbuat sesuatu.

E. Eksploitasi gagasan Anda untuk merumuskan tujuan yang jelas. Dalam hal ini, sugesti dalam diri juga memberi kekuatan yang luar biasa dalam menumbuhkan ambisi.

F. Selalu berpikir positif. Ambisi yang positif menjauhkan Anda dari rasa takut, iri hati, ragu-ragu, dendam, dan benci.

Tugas Anda

Bila atasan memberi penugasan, berarti itu adalah tugas Anda. Lebih baik katakan: "Maaf pak, sepertinya itu bukan prioritas saya saat ini." Lalu jelaskan baik-baik pada bos Anda apa saja tanggung jawab Anda sekarang.
be well,
Dwika-ExecuTrain






Kata "Jangan" saat kerja
oleh SUPRIYADI

Apa pun bidang pekerjaan dan level posisi Anda, keterampilan komunikasi perlu Anda miliki. Ketahui bagaimana menyampaikan keinginan dengan cara yang tepat serta ucapan apa saja yang harus Anda hindari di kantor.

Jangan katakan: "Itu bukan pekerjaan saya"
Mengapa: Bila atasan memberi penugasan, berarti itu adalah tugas Anda.
Lebih baik katakan: "Maaf pak, sepertinya itu bukan prioritas saya saat ini." Lalu jelaskan baik-baik pada si bos apa saja tanggung jawab Anda sekarang.

Jangan katakan: "Ini memang bukan ide bagus, tapi menurut saya..."
Mengapa: Jangan remehkan ide Anda sendiri.
Lebih baik katakan: Ungkapkan apa yang ada dalam kepala Anda. Hal ini akan mendorong Anda melontarkan ide cemerlang dengan percaya diri.

Jangan katakan: "Maaf, saya sedang tak ada waktu."
Mengapa: Kalimat tersebut termasuk tidak sopan, baik saat bicara langsung atau ditelepon.
Lebih baik katakan: "Saya harus segera menyelesaikan ini. Boleh bicara nanti setelah selesai?"

Saat wawancara kerja
Jangan katakan: "Atasan saya yang sekarang sangat killer."
Mengapa: Sangat tidak profesional. Pihak yang mewawancari Anda justru akan berpikir dua kali untuk merekrut karyawan yang suka menjelek-jelekkan orang lain.
Lebih baik katakan: " Saya siap dengan tantangan baru" atau ucapan positif lainnya.

Jangan katakan: "Menurut Anda saya akan cocok bekerja di sini?"
Mengapa: Anda adalah orang yang diwawancara bukan pewawancara.
Lebih baik katakan: Ungkapan yang menunjukkan Anda tertarik pada perusahaan tersebut.

Jangan katakan: "Bagaimana dengan jam kerjanya?" atau "saya bisa dapat cuti liburan berapa lama?"
Mengapa: Anda akan terlihat seperti orang yang hanya fokus pada hak yang didapat setelah pekerjaan selesai.
Lebih baik katakan: " Bagaimana gambaran tugas harian di sini?" Lalu, bila Anda tidak mendapat penjelasan yang diharapkan, katakan, "bisakah Anda jelaskan tentang kompensasi dan benefit lain di kantor ini?"