Senin, 28 Februari 2011

Kebiasaan Anda

Terkadang pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan belum tentu karena pemasukannya yang terlalu sedikit tetapi karena kebiasaan menghamburkan uang.  Bahkan jika anda memiliki pekerjaan dengan 'gaji tertinggi' di dunia pun, anda dapat berada dibawah hutang akibat kebiasaan anda.
be well,
Dwika - ExecuTrain


Yuk, Kenali Perbedaan Kebutuhan & Keinginan Sebelum Belanja

by: Prilla Kinanti
 Dalam menjalankan kehidupan sering sekali kita mengalami suatu kondisi dimana hal yang tidak terencana malah terjadi. Masalahnya lagi, ternyata hal yang tidak produktif cukup membebankan keuangan kita di kemudian hari.

Contoh yang paling sederhana ketika kita mengunjungi pusat perbelanjaan, toko, maupun pusat elektronik dsb. Dengan mudahnya pola belanja konsumtif terjadi apalagi didalam saku kita terselip beberapa kartu kredit yang memang diciptakan oleh penerbitnya untuk melakukan transaksi seperti itu.

Beberapa fakta konsumtif sering terjadi pada diri kita, hal ini terbukti dengan akrabnya kita dengan percakapan seperti dibawah ini:

"Duh, pengen beli baju deh"
"Eh katanya Gym disitu bagus loh, ikutan yuk"
"Hmm.., gue butuh jeans nih, yang lama udah ga nge-trend"
"Mana yang lebih asik ya?, ipad atau iphone 4?, atau dua-duanya aja deh"
"Nonton konser yuk, band 'itu' mau datang loh ke Jakarta, kapan lagi bisa nonton mereka?"

Selain akrab, mungkin anda sendiri yang mengalaminya. Seringkah kita mengalaminya?

Pembaca yang bijaksana, contoh kejadian diatas adalah hal yang disebut dengan budaya konsumtif, membeli barang, melakukan transaksi keuangan yang tidak terlalu dibutuhkan, hal ini dapat terjadi karena besarnya sifat emosional yang mengalahkan sifat rasional atau ego yang begitu besar hingga ingin memiliki sesuatu yang sama dengan teman atau rekannya agar bisa menjadi bagian dari mereka.

Membedakan antara kebutuhan dan keinginan

Sebenarnya ada jalan yang tepat untuk mengatasi contoh konsumtif diatas yakni, kita dapat melakukan identifikasi antara kebutuhan dan keinginan.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan kebutuhan? Kebutuhan adalah sesuatu hal yang diperlukan oleh manusia sehingga dapat mencapai kesejahteraan, sehingga bila ada diantara kebutuhan tersebut yang tidak terpenuhi maka manusia akan merasa tidak sejahtera atau kurang sejahtera. Dapat dikatakan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus ada.

Sedangkan keinginan adalah sesuatu tambahan atas kebutuhan yang diharapkan dapat dipenuhi sehingga manusia tersebut merasa lebih puas. Namun bila keinginan tidak terpenuhi maka sesungguhnya kesejahteraannya tidak berkurang.

Untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, harus dilihat dari segi fungsinya.
Terkadang anda menganggap keinginan sebagai kebutuhan yang wajib dipenuhi.

Inilah pola pikir yang harus diubah, karena jika anda tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan maka konsekuensi logisnya anda tidak biasa membedakan pos pengeluaran yang perlu dan tidak perlu. Karena tidak bisa membedakan maka secara otomatis yang bersangkutan sudah pasti tidak akan bisa mengontrol pengeluaran, jika ini berlangsung kama sudah pasti anda akan mengalami defist keuangan dikemudian hari atau dikenal dengan istilah besar pasak dari pada tiang.

Lalu bagaimana caranya agar tidak menjadi defisit? Ada dua cara yaitu pertama melakukan usaha tambahan agar gaji atau pendapatan bertambah, cara kedua adalah melakukan control atau pengendalian pengeluaran yang tidak perlu.

Cara kedua tentu harus menjadi cara yang lebih mudah karena hanya melibatkan diri sendiri, sedang cara pertama tentu harus melibatkan orang lain, minimal bos anda agar kerja anda dapat dinilai baik oleh sang bos sehingga gaji menjadi meningkat. Dalam hal ini cara pertama akan lebih memakan waktu.

Agar lebih jelasnya silahkan lihat contoh kasus berikut:

Misalkan seseorang wanita mempunyai gaji sebesar Rp 2.290.000 per bulan, tetapi total pengeluaran untuk biaya hidup, cicilan motor dan utang kartu kredit serta premi asuransi anda adalah sebesar Rp 2.665.000 per bulan. Ini menujukan bahwa wanita tersebut mengalami defisit yakni sebesar Rp 375.000, dengan defisit ini berarti ia tidak memiliki pos dana untuk tabungan, ivestasi, maupun dana darurat.

Dengan kondisi seperti ini pula (defisit) ia akan menutupinya dengan melakukan utang (melalui kartu kredit), pada akhirnya wanita ini kelak akan gali lubang tutup lubang.
 
Sebelum kondisi gali dan tutup lubang terjadi maka ada sebuah cara yang sederhana untuk memperbaikinya adalah dengan mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu.
Berikut ini adalah rinciannya:

Tabel

Sebelum Dikendalikan Sesudah dikendalikan Keterangan
PEMASUKAN Gaji Bersih Rp 2.280.000 Rp 2.280.000 Tdk berubah
Total Rp 2.290.000 Rp 2.290.000 Tdk berubah
PENGELUARAN Utilities
Gas Rp 70.000 Rp 70.000
Air Rp 60.000 Rp 60.000
Listrik Rp 160.000 Rp 160.000
Telpon Rp 70.000 Rp 70.000
Handphone Rp 170.000 Rp 170.000
TV Kabel Rp 135.000 - Tidak perlu
Internet Rp 100.000 Rp 100.000
Makanan
Grocery Rp 200.000 Rp 200.000
Restoran Rp 100.000 Rp 100.000
Transportasi
Bensin dan Parkir Rp 450.000 Rp 350.000 Efisiensi
Cicilan Motor Rp 380.000 Rp 380.000
Lain-lain
Asuransi Kesehatan Rp 150.000 Rp 150.000
Fitness Member Rp 100.000 - Tidak Perlu
Kartu Kredit Rp 200.000 Rp 200.000
Pakaian Rp 100.000 Rp 80.000 Efisiensi
Salon Rp 90.000 - Tidak Perlu
Kosmetik Rp 50.000 - Tidak Perlu
Langganan Koran Rp 80.000 - Tidak Perlu

Tabungan, Investasi & Dana darurat
Investasi Reksa Dana - Rp 150.000 Perlu
Dana Darurat - Rp 100.000 Perlu
TOTAL PENGELUARAN Rp 2.665.000 Rp 2.290.000
SURPLUS (DEFISIT) Rp (375.000)

Mari kita evaluasi catatan pemasukan dan pengeluaran diatas dengan cara seperti yang dituliskan di awal "mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu". Contohnya cable TV, ini adalah pengeluaran yang tidak perlu atau tidak wajib, anda dapat memonton acara TV tanpa menggunakan cable TV.

Lainnya adalah Fitness membership, anda dapat berolah raga tanpa pergi ke fitness centre bukan? Salon, cosmetic, langganan koran juga bukan termasuk dalam pos pengeluaran yang wajib, bukankah koran online saat ini sudah banyak? Dapat dibaca melalui internet?

Demikian juga dengan transportasi, sebelumnya ia sering melakukan kombinasi menggunakan angkutan umum (taksi) dengan kendaraan sendiri (motor) namun dengan efisiensi, penggunaan kendaraan pribadi dioptimalkan.

Bayangkan jika ia mengkapus cable TV, fitness membership, salon, cosmetic, dan langganan majalah serta efisiensi penggunaan kendaraan maka wanita tersebut sudah dapat menekan defisit sebesar Rp 375.000,00 per bulan, bahkan lebih dari itu ia memiliki tabungan, investasi serta pos dana darurat sebesar Rp 250.000,00 per bulannya.

Terkadang pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan belum tentu karena pemasukannya yang terlalu sedkit tetapi karena kebiasaan menghamburkan uang.  Bahkan jika anda memiliki pekerjaan dengan 'gaji tertinggi' di dunia pun, anda dapat berada dibawah hutang akibat kebiasaan anda.

Anda dapat mengendalikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu tersebut jika anda mau. Memang tidak mudah untuk merubahnya tetapi pasti bisa jika mau. Selamat mencoba!

Prilla Kinanti

Sabtu, 26 Februari 2011

ITIL dan ISO 20000

ITIL maupun ISO 20000 merupakan sebuah acuan dalam mengimplementasikan IT Service Management dan keduanya sangat erat kaitannya. Bahkan bisa dianggap bahwa ISO 20000 merupakan “mirrored” dari proses dan fungsi yang terdapat dalam ITIL versi 2.
be well,
Dwika-ExecuTrain




Dari ITIL Conformance ke ISO 20000 Compliance

Oleh: Dede Mulyana
 Sejak tahun 1996, ITIL sudah diakui oleh British Standard (BS) dan tahun 2005 (ketika BS 150000 berubah menjadi ISO 20000), International Strandard Organization (ISO) juga mengakui bahwah ITIL merupakan sebuah framework yang dapat dijadikan panduan dalam mengimplementasikan IT Service Management dan merupakan jalur untuk menuju sertifikasi BS 15000 dan ISO 20000. Kedua standard tersebut merupakan standard dalam mengukur IT Service Management Compliance.
Untuk perusahaan dan organisasi yang telah mengimplementasikan ITIL untuk pengelolaan teknologi informasinya, maka langkah selanjutnya organisasi dapat mengukur tingkat kepatuhan /
Compliance terhadap standard ISO 20000. Pertanyaannya adalah mengapa ISO 20000, apakah ITIL tidak cukup? beberapa hal yang menjadi pertimbangan mengimplementasikan ISO 20000 adalah sebagai berikut:

  • ITIL tidak memberikan certificate of compliance sedangkan ISO memberikan kepada perusahaan yang memenuhi kriteria penilaian / specification melalui proses Audit;
  • ITIL bukan merupakan standard yang memberikan prescription tetapi lebih kepada merekomendasikan, oleh karena itu implementasi antara satu organisasi dengan organisasi lain dapat dipastikan terdapat perbedaan. Dengan demikian kita tidak bisa membandingkan / melakukan benchmark secara pasti;
  • dll.
Pertanyaan selanjutnya adalah kapan sebuah organisasi sudah harus melirik ISO 20000? dan ketika organisasi baru mulai mengimplementasikan IT Service Management manakah yang direkomendasikan untuk dijadikan acuan, apakah framework ITIL ataukah ISO 20000?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya dikembalikan lagi kepada organisasi itu sendiri. Berikut ini adalah bahan pertimbangan untuk pemilihan kerangka yang diacu, apakah ITIL atau ISO 20000
  • Bagi organisasi yang tidak ingin terlalu “diatur” atau ingin lebih leluasa dalam mengimplementasikan ITSM maka ITIL biasanya menjadi pilihan. Terlebih lagi apabila organisasi tersebut tidak memiliki keharusan untuk mendapatkan sertifikat dari suatu standard maka ITIL lebih dinamis;
  • Karena ITIL merupakan kumpulan best practice dan good practice maka sifatnya merupakan rekomendasi sehingga organisasi bisa mengimplementasikannya sesuai dengan kondisi lingkungan, budaya serta kemampuan teknis dan finansial masing-masing. Sedangkan ISO 20000 merupakan sebuah standard yang “mengharuskan” sebuah organisasi untuk memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan untuk menjadi compliance dengan standard tersebut;
  • Apabila sebuah organisasi kesulitan untuk “menjual” ITIL kepada manajemen, ISO 20000 bisa menjadikan solusinya karena bagi perusahaan mendapatkan certificate of compliance lebih memiliki nilai prestis dari pada ITIL;
  • Bagi vendor, supplier maupun service provider yang memberikan layanannya kepada organisasi lain atau perusahaan yang mengikuti tender/lelang, biasanya memiliki certificate of compliance dari ISO dapat memberikan competitive advantage tersendiri dari pada hanya statement bahwa mereka telah mengimplementasikan ITIL;
  • dll.
Oleh karena itu, pilihan kembali kepada organisasi tetapi yang jelas baik itu ITIL maupun ISO 20000 merupakan sebuah acuan dalam mengimplementasikan IT Service Management dan keduanya sangat erat kaitannya. Bahkan bisa dianggap bahwa ISO 20000 merupakan “mirrored” dari proses dan fungsi yang terdapat dalam ITIL versi 2.

IT IL dan Organisasi IT

ITIL dan Struktur Organisasi » Struktur Organisasi

Contoh Struktur Organisasi berdasarkan aktivitas
Struktur Organisasi
Contoh Struktur Organisasi berdasarkan aktivitas dari itilindo.wordpress.com

CobiT

Cakupan CobiT sebagai standar IT Audit Framework lebih luas dari inti pembahasan ITIL sebagai IT Service Management Framework.
be well,
Dwika-ExecuTrain




Menyelaraskan CobiT dan ITIL Versi 3

**itilindo.wordpress.com
Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan bahwa CobiT sebagai navigator dalam arah pengembangan tata kelola IT dalam organisasi, sementara ITIL sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan pengembangan tersebut.
Ada organisasi yang melakukan IT Audit terlebih dahulu kemudian baru mengenal konsep ITIL. Ada organisasi yang melakukan implementasi ITIL lalu melakukan audit terhadap tata kelola IT-nya dengan standar CobiT. Namun ada pula yang telah memahami keduanya terlebih dahulu dan mencantumkannya dalam IT strategic plan organisasinya.
Memahami kebutuhan akan penyelarasan antara CobiT dan ITIL, IT Governance Institute (ITGI) dan Office of Government Commerce (OGC) melakukan joint research (riset bersama). Salah satu hasil dari riset ini adalah pemetaan antara setiap Control Objective dalam CobiT 4.1 dengan topik bahasan dalam ITIL versi 3.
Sebagai contoh, Control Objective DS1 “Service Level Management framework” berhubungan dengan ITIL versi 3 pada topik bahasan:
  • SS 2.6 Functions and processes across the life cycle
  • SS 4.3 Develop strategic assets
  • SS 4.4 Prepare for execution
  • SS 7.2 Strategy and design
  • SS 7.3 Strategy and transitions
  • SS 7.5 Strategy and improvement
  • SD 4.2.5.1 Designing SLA frameworks
  • SD 4.2.5.9 Develop contracts and relationships
Memang tidak semua Control Objective pada CobiT 4.1 terpetakan seluruhnya pada ITIL versi 3. Hal ini mengingat cakupan CobiT sebagai standar IT Audit Framework lebih luas dari inti pembahasan ITIL sebagai IT Service Management Framework. CobiT juga harus mencakup prinsip-prinsip security (standar ISO17799 / ISO27000) dan quality assurance (standar ISO9000).
Ditulis dalam ITIL Umum, ITIL versi 3

Kick-off Meeting

Kick-off Meeting memiliki peranan penting dalam sebuah proses manajemen proyek.
Untuk dapat mengelola sebuah proyek dengan baik, coba selalu sisipkan aktifitas kick-off meeting sebagaimana direkomendasikan dalam PMBOK serta melakukan serangkaian kegiatan dalam tahapan Inisiasi dan Perencanaan Proyek.
be well,
Dwika-ExecuTrain



Pentingnya sebuah Project Kick-off / Kick-off Meeting

**pm-it.blogspot.com/
Project Kick-off atau dikenal juga dengan Kick-off meeting merupakan suatu aktifitas yang menandakan dimulainya sebuah proyek. Apakah semua proyek harus ada kick-off? idealnya setiap proyek harus dimulai dengan kick-off dan diakhiri dengan Closing.

Fungsi Kick-off tidak hanya sebagai penanda dimulainya sebuah proyek tetapi memiliki fungsi lain diantaranya:
  1. Memaparkan Project Management Plan (PM Plan)
  2. Membahas isu-isu yang masih belum bisa diselesaikan
  3. Meminta komitmen dari seluruh stakeholders
  4. Mengenal seluruh stakeholders
Dalam PMBOK (Project Management Body of Knowledge), sebelum dilakukan kick-off harus terlebih dahulu dilakukan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan tahapan Inisiasi dan Perencanaan Proyek. Secara singkatnya dapat dijelaskan bahwa kick-off bukan benar-benar awal pelaksanaan proyek, tapi lebih kepada formal meeting sebagai pertanda dimulainya proyek.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan agar pelaksanaan kick-off menjadi efektif adalah:
  1. Semua hal yang akan disetujuai pada saat kick-off, secara informal telah disetujui sebelum pelaksanaan kick-off. Termasuk didalamnya adalah: Ruang Lingkup Proyek (Project Scoope), Jadwal Proyek (Project Schedule), Alokasi Sumber Daya, Anggaran, Rencana Kwalitas (Quality Planning), dan dokumen-dokumen lainnya yang disepakati untuk disetujui sebelum pelaksanaan proyek.
  2. Semua isu, masalah dan constraint yang berhasil diidentifikasi harus sudah bisa diselesaikan sebelum pelaksanaan kick-off
  3. Pastikan semua stakeholders atau minimal perwakilan stakeholders dapat hadir
  4. Pastikan manajemen puncak atau sponsor proyek dapat hadir
  5. Apabila terjadi perubahan terhadap hal-hal yang sudah disepakati, segera perbaharui kesepakatan lama, kemudian langsung ditandatangani oleh pihak-pihak terkait, termasuk sponsor proyek
Mengapa kick-off begitu penting dalam sebuah proyek? mungkin ada sebagian dari anda yang bertanya demikian, dan merasa bahwa tanpa pelaksanaan kick-off proyek yang selama ini anda tangani tidak pernah ada masalah. Bahkan banyak yang merasa bahwa kick-off hanya sebuah media untuk entertain klien. Bisa saja anda benar bahwa anda tidak pernah mendapat masalah dengan proyek yang anda tangani walaupun tanpa dilakukan kick-off.

Besar kecilnya proyek akan mempengaruhi kompleksitas dari proyek itu sendiri. Semakin besar sebuah proyek dan semakin banyak pihak-pihak yang terkait maka semakin besar pula kompleksitas proyek tersebut. Dengan demikian sudah jelas bahwa banyak orang yang berkepentingan secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan proyek serta produk yang akan dihasilkan oleh proyek tersebut.

Sebuah kick-off adalah momen yang paling tepat untuk dapat mengumpulkan seluruh stakeholders yang terlibat. Sehingga saat inilah yang paling tepat untuk membahas, menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan proyek serta meminta dukungan, komitmen serta kerjasama dari seluruh stakehoder karena apabila proyek sudah berjalan resikonya akan sangat besar apabila dari awal belum mendapat dukungan dari seluruh stakeholders yang terlibat.

Oleh karena itu, Kick-off memiliki peranan penting dalam sebuah proses manajemen proyek.

Untuk dapat mengelola sebuah proyek dengan baik, coba selalu sisipkan aktifitas kick-off sebagaimana direkomendasikan dalam PMBOK serta melakukan serangkaian kegiatan dalam tahapan Inisiasi dan Perencanaan Proyek (dibahas dalam artikel terpisah)

Lima area pengetahuan

Project Manager dapat menjalankan dan menggunakan lima area pengetahuan dalam sebuah proyek, sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan kreatifitas.
be well,
Dwika - ExecuTrain




Project Management sebagai sebuah Ilmu dan Seni

**pm-it.blogspot.com
Dalam mengelola sebuah proyek, seorang Project Manager harus memiliki pengetahuan mengenai kaidah-kaidah serta metodologi Project Management. Tanpa memiliki pengetahuan tersebut resiko yang dihadapi dalam eksekusi sebuah proyek akan terlalu tinggi. Terdapat beberapa hal yang harus dimengerti dan digunakan oleh seorang Project Manager untuk mengelola proyek dengan efektif, antara lain:
  1. PMBOK (Project Management Body of Knowledge)
  2. Pengetahuan dalam bidang dimana proyek itu dijalankan
  3. Mengerti dan memahami kondisi lingkungan yang mempengaruhi proyek
  4. Pengetahuan tentang Manajemen secara Umum (General Management)
  5. Interpersonal Skills
Kelima area tersebut pada umumnya merupakan pengetahuan yang dapat dipelajari melalui pelatihan, self study dan mekanisme pembelajaran lain yang lazim dilakukan. Namun bagaimana seorang Project Manager dapat menjalankan dan menggunakan kelima area pengetahuan tersebut dalam sebuah proyek, sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan kreatifitas Project Manager itu sendiri. Hal ini yang menjadikan Project Management tidak hanya merupakan kumpulan ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari, tapi juga sebagai sebuah seni dalam menjalankan seluruh rangkaian proyek tersebut sehingga proyek dapat diselesaikan sesuai dengan tujuan dan obyektif serta harapan dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dari proyek tersebut.

Namun demikian, bagi Project Manager pemula yang baru terjun dalam memimpin sebuah proyek jangan terlalu khawatir, yang penting kelima knowledge area tersebut harus dimengerti dan terus menerus dipelajari. Seiring dengan pengalaman, pasti kemampuan anda dalam mengelola dan memimpin sebuah proyek akan terasah. Hal ini dapat anda buktikan dari hasil yang dicapai, dimana secara umum hasil yang ada peroleh dari proyek yang pertama kali anda pimpin dengan proyek selanjutnya biasanya akan terlihat perbedaannya.

Celah dan peluang

Seorang Project Manager dituntut untuk mengubah sebuah persaingan office politic yang kurang sehat menjadi sehat. Tentunya hal ini tidaklah mudah, Seorang Project Manager yang baik harus berusaha untuk mendapatkan celah dan peluang untuk dapat mengubah persaingan yang negatif menjadi persaingan positif, bahkan mengubah kodisi office politic menjadi lebih kondusi.
be well,
Dwika-ExecuTrain



Pengaruh Office Politic terhadap Pelaksanaan Proyek

**pm-it.blogspot.com
Pelaksanaan proyek yang efektif tidak terlepas dari peran serta dan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi sikap dari para stakeholder proyek untuk berperan aktif dalam menyukseskan implementasi proyek.

Office Politic merupakan sebuah situasi dimana kondisi lingkungan tempat kerja atau kantor sangat kondusif yang saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama atau malah sebaliknya terdapat kerajaan-kerajaan kecil didalam perusahaan yang saling bertentangan berebut kekuasaan. Situasi yang kedua tidak selalu memiliki efek negatif bagi proyek, adakalanya justru efek positif yang akan berpengaruh terhadap proyek. Berikut ini adalah sebuah ilustrasi dari kondisi office politic yang berpengaruh negatif dan positif:

Pengaruh Negatif
Sebuah organisasi dimana didalamnya terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang saling
bersaing dapat memberikan dampak negatif bagi proyek. Hal ini diakibatkan saling
menjegal serta menjatuhkan, masing-masing pihak tidak mau kesuksesan pihak lain
dalam eksekusi proyek dapat melamahkan posisinya dalam persaingan. Oleh karena itu
sering kali

Pengaruh Positif
Sedangkan pengaruh positif, dimana pengaruh ini sangat jarang, dapat muncul apabila
persaingan diantara kerajaan-kerajaan kecil didalam suatu organisasi dilakukan dengan
sehat, misalnya mereka ingin saling menunjukan bahwa proyek yang mereka kerjakan
dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi organisasi

Dalam kondisi office politic yang kurang kondusif seperti inilah seorang Project Manager dituntut untuk mengubah sebuah persaingan yang kurang sehat menjadi sehat. Tentunya hal ini tidaklah mudah, apalagi persaingan ini sudah tidak lagi dalam urusan pekerjaan tetapi sudah terbawa menjadi masalah personal. Namun demikian, seorang Project Manager yang baik harus berusaha untuk mendapatkan celah dan peluang untuk dapat mengubah persaingan yang negatif menjadi persaingan positif, bahkan mengubah kodisi office politic menjadi lebih kondusif