Selasa, 19 Oktober 2010

IT Infrastructure Library v.3

Brief of Description:

The IT Infrastructure Library v3 Foundations certification training course successfully prepares students for the IT Infrastructure Library v3 Foundations exams by teaching the core fundamentals of ITIL practices: service management as a practice, the service lifecycle, key principles and models, selected roles, processes and functions, technology and architecture and the ITIL Qualification scheme.



Training Objectives

At the end of this course, you will be able to:

• Identify the new content of ITIL v3

• Identify the major differences from previous ITIL versions

• Prepare for writing the v3 Foundation Bridge exam


Prerequisite:

ITIL Foundation Certificate from previous versions of ITIL (ITIL versions 1 or 2). The exam will test both the new v3 knowledge as well as the previous ITIL version content that has not changed. The student should set time to review their v2 material as a refresh prior to the course, as the v2 content that has not changed will not be covered in this course, but may be covered in the exam

Excellent Finance Program Integrated with MS Excel 2003

Brief of Description:

This program provides a comprehensive training for finance staff with the combination of individual financial skill and IT skill. In this training, participants will learn how to build a new paradigm of financial function as a business accelerator, build technical skill with MS Excel 2003 to accelerate their daily task and also to develop an effective interpersonal skill which in the end will boost their performance as excellent.



Training Objectives

Upon successful completion of this seminar, participants will be able to:

· Paradigm shifting to excellent finance

· Effective habits for finance

· Using MS Excel 2003 in financial function

· Interpersonal skill for finance

· How to be warm, honest & open

· Communication skill for handling complaint


Who Should Attend?

Finance manager, finance staff, and every function that concern with financial task.

Kesulitan dan Tantangan

Anda bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda.
Salam,
Dwika-ExecuTrain



4 TIPE MANUSIA HADAPI TEKANAN HIDUP

“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)

Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari.

Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.

Tipe pertama, tipe kayu rapuh.

Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.

Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.

Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.

Tipe kedua, tipe lempeng besi.

Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.

Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.

Tipe ketiga, tipe kapas.

Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.
Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.

Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong.

Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.

Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat
finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.

Bangun network Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti
rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.

Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.

Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho
ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?

Sumber: 4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup oleh Anthony Dio Martin

Senin, 11 Oktober 2010

Ide maupun solusi

Anda punya seseorang yang bisa diajak bicara adalah perlu sekali. Bukan saja, bicara dengan orang lain akan memberikan Anda ide maupun solusi, yang kadang tidak mampu Anda lihat. Tapi, bicara dengan orang juga melegakan.
Salam,
Dwika

=====================================

“Wow, saya suka dan setuju sekali dengan artikel singkat yang ditulis oleh Pak Anthony Dio Martin di bawah ini..

Semoga bisa menjadi inspirasi juga untuk anda semua..”

‎”Shoulder To Cry On”

Richard Farson, seorang profesor Humanistic Psychology Institute di San Fransisco mengatakan dalam surveinya bahwa “Jutaan orang Amerika tidak pernah punya lebih dari satu menit selama hidupnya untuk menceritakan persoalan hidupnya kepada orang yang bisa dipercayainya”. Tidaklah mengherankan jika angka depresi dan pemakaian obat-obat anti depresi tergolong sangat tinggi di Amerika.

Bagaimana kita di Indonesia? Bersyukurnya, saya berharap bahwa angka ini tidak akan terlalu mengkhawatirkan. Saya pikir, kita masyarakat yang lebih terbuka. Dan untungnya, kalau saya perhatikan, baik di kota maupun pedesaan di Indonesia, kita umumnya masih punya seseorang yang bisa diajak untuk bicara.

Menurut saya, punya seseorang yang bisa diajak bicara adalah perlu sekali. Bukan saja, bicara dengan orang lain akan memberikan kita ide maupun solusi, yang kadang tidak mampu kita lihat. Tapi, bicara dengan orang juga melegakan. Ada banyak kasus dimana seseorang yang bermasalah tetapi tidak menemukan seseorang yang bisa diajak bicara, berakhir dengan bunuh diri. Memang tidaklah mudah mempercayai seseorang dan cukup berisiko mempercayakan persoalan kita pada orang lain. Tapi, jika ingin bertumbuh dan berkembang secara sehat, kadang kita membutuhkan bahu orang lain dimana kita bisa bersandar!

by: Anthony-Dio-Martin

Kamis, 07 Oktober 2010

Pemimpin bisnis

Pemimpin bisnis sebenarnya ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.
Salam,
Dwika


Bisnis itu Permainan, Bukan Ilmu Pengetahuan
** baca-saja.blogspot.com


Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: "belajar!". Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: "Leaders are made, not born".

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi "ilmu bisnis", wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.


Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.


Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar "keras" seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

"Kesia-siaan" mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan "Marketing Mix" 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat "ulah" para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam "arus ilmu pengetahuan" yang dibuat oleh mereka yang "pakar ilmu pengetahuan", sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus "dipaksa" mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: "Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?"

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya "The Art Of The Leader" : "Success is acquired by playing hard, not by working hard..".

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin di sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.

Selasa, 05 Oktober 2010

MELANGKAH

Cara manapun yang akan Anda pilih, yang penting MELANGKAH, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca tulisan saya ini. Karena kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan membaca, tapi dengan ACTION.
Salam,
Dwika

===================
The Power of Kepepet
**baca-saja.blogspot.com

"Seandainya sekarang Anda tidak memiliki uang tabungan. Penghasilan pun kurang dari 5 juta sebulan. Apakah Anda bisa mendapatkan uang 50 juta, jam 9 esok hari?" Saat saya menanyakan pertanyaan ini kepada peserta seminar, hampir semua menjawab, tidak bisa. Kenapa? Karena mereka mengukur kemampuannya berdasarkan kondisi normal mereka. Dengan penghasilan 5 juta perbulan, jika saving-nya 2 juta perbulan, maka perlu 25 bulan untuk mendapatkan 50 juta.

Bagaimana jika pertanyaan saya ubah? Seandainya, malam hari ini, anak Anda atau orang yang paling Anda sayangi mendadak sakit keras. Dokter mendiagnosa ada sebuah tumor ganas yang harus dioperasi besok juga, jika tidak, maka nyawanya akan melayang. Sedangkan operasi hanya bisa dilaksanakan jika Anda menyerahkan uang tunai sejumlah 5 juta rupiah sebelum jam 9 esok hari. Bagaimana? Apakah Anda masih akan mengatakan tidak bisa? Mayoritas akan menjawab, "Harus bisa". Kenapa? Karena kepepet, jika tidak, nyawa orang yang kita cintai tsb akan melayang.

Jadi sebenarnya jika dalam kondisi yang kepepet dan tidak diberikan pilihan untuk "tidak bisa", manusia akan mencari jalan untuk berpikir "bagaimana harus bisa". Tetapi kenapa sukses, kaya, membahagiakan orang tua atau keluarga, seolah bukan suatu kebutuhan yang mendesak? Sesungguhnya manusia telah diciptakan dengan potensi luar biasa, di luar apa yang kita pikirkan. Hanya saja potensi tersebut seringkali hanya akan keluar pada kondisi terdesak, seperti seorang nenek bisa melompat dari gedung setinggi 5 meter, saat kebakaran.

KEPEPET VS IMING-IMING

Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi. Kesalahan fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai 'iming-iming' untuk menggerakkan audiens. "Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil mewah? Rumah mewah? atau bahkan kapal pesiar?" Memang, saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi. Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.

Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di suatu perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem bonus. "Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan mendapat bonus jalan-jalan keluar negeri!" kata managernya. "Gimana, semangat?" lanjut manager berinteraksi. "Semagaat..ngat..ngat!" sambut salesman, sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi bulan pun berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager bertanya,"Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?". "Enggak kok Pak, cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak". Setelah 3 bulan masa 'iming-iming' tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia berteriak agak menekan di dalam meetingnya,"Pokoknya, jika anda tidak bisa mencapai target penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya PECAT!". Nah, keluarlah keringat dingin si salesman. Sekeluar dari ruangan dia langsung menyambangi calon-calon customernya, kerjanyapun semakin giat. Malas, malu, nggak pe-denya hilang seketika. Kok bisa? Karena KePePet! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol. "Trus anak istriku makan apa?" pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama ini tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui. Itulah yang disebut The Power of Kepepet.

97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa "Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!". Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? "Emang gua pikirin!". Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment. John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan "Establishing Sense of Urgentcy" adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan visi. Fungsi Visi adalah memberikan arah, sedangkan The Power of Kepepet yang mendorong untuk bergerak.

MENCIPTAKAN KONDISI KEPEPET

Coba amati biografi orang-orang sukses, banyak dari mereka yang 'kepepet' sebelumnya. Seperti pegas, saat kita tekan, maka akan menimbulkan gaya tolak yang lebih besar. Trus, apa yang harus kita lakukan? Cara pertama untuk mengeluarkan 'potensi kepepet' kita, dengan cara menvisualisasikan (membayangkan) seolah-olah kita dalam kondisi kepepet, maka kita akan memfungsikan organ tubuh dan hormon-hormon kita, bekerja secara maksimal. Misalnya, bayangkan jika hari ini Anda di-PHK, apa yang Anda rasakan?

Cara kedua, menciptakan kondisi kepepet secara fisik. Misalnya dengan berhutang untuk modal usaha, secara otomatis akan membuat kita termotivasi untuk mengembalikan hutang. Atau, bisa juga kita terima orderan langsung, meskipun usaha belum mulai. Ada juga yang memberanikan diri membayar DP (uang muka) sewa ruko/ kios, setelah itu terpaksa berpikir bagaimana melunasinya. Jika Anda masih single dan tidak punya tanggungan keluarga, mungkin Anda mau langsung mencoba keluar kerja dan mulai usaha?! Semua itu pilihan Anda lho, jangan salahkan saya untuk risikonya. Tergantung dari karakter masing-masing orang. Saya menempuh cara yang terakhir, cukup konyol, tapi berhasil. Namun jangan lupa, Integritas dan Kredibilitas tetap harus dijaga.

Cara manapun yang akan Anda pilih, yang penting MELANGKAH, jangan kebanyakan mikir atau sekedar membaca tulisan saya ini. Karena kehidupan Anda tidak akan berubah hanya dengan membaca, tapi dengan ACTION.


"Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah"

Orangtua yang sibuk

Anda sebagai orangtua yang sibuk, mestinya kita semakin menyadari bahwa kenakalan para remaja Anda sebenarnya adalah upaya teriakan minta tolong dari remaja untuk didampingi Anda.
Salam,
Dwika

=====================================
Membangun kecerdasan emosional remaja
oleh : Anthony Dio Martin

Seorang ibu, pebisnis, bercerita dengan sedih saat mengikuti kursus kecerdasan emosional kami di Jakarta. "Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri". "Mengapa? Memangnya, anak Anda kayak monster?"

Si ibu itu tersenyum getir dan menjawab, "Bukan begitu, Pak. Begini. Awalnya saya dan suami begitu bersyukur karena anak saya sangat pintar dan sangat cepat menangkap apa pun yang diajarkan.

Namun sekarang, saya mulai takut karena dia lebih senang di rumah, dan tidak mau ke manapun." Saya pun menyela, "Lho, sementara banyak orangtua bingung karena anaknya keluyuran melulu, malahan Anda bingung dengan anak Anda yang di rumah melulu".

Si ibu itu pun menyela, "Iya ya Pak. Jadi serba- salah. Anak keluyuran, bingung. Akan tetapi kebanyakan di rumah, juga bingung. Namun, masalah saya lebih dari itu. Saya lihat anak saya ini agak anti-sosial.

Dia sama sekali tidak mau bermain. Misalkan kalau sepupunya datang. Malahan dicuekin. Di sekolah pun, gurunya pernah prihatin karena anak saya cenderung egois. Saya lihat semua mainannya dan hobinya yang jenis solitair, yang main sendirian. Apakah anak saya nggak mengalami gangguan?

Pada kejadian yang lain, seorang bapak merasa sedih dengan anak remajanya. Pasalnya, putranya ini mengambil uang sekolah untuk dipakai traktir teman-teman dan pacarnya. Enam bulan uang sekolah tidak disetorkan ke sekolah, tetapi dipakainya sendiri.

Selama ini, anak ini berpikir bisa berkelit dengan berbagai alasan hingga akhirnya sekolah menagih kepada si bapak tersebut yang terkaget-kaget. Masalahnya, si bapak tersebut merasa sudah memberikan uang sekolah tersebut lewat anaknya.

Saat dikonfirmasi, si anak remaja itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Si bapak ini begitu kecewa, bagaimana anak yang tergolong pintar ini bisa begitu konyol berpikir bahwa tidak akan ketahuan dengan apa yang dilakukannya?

Kecerdasan emosional

Menjelang camp inspirasional kecerdasan emosional bagi kaum muda yang akan kami adakan pada musim liburan Juli tahun ini, kami menerima banyak sekali e-mail sejenis di atas yang menanyakan langkah-langkah penanganan bagi para remaja.

Ada orangtua yang begitu bingungnya, sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang mesti mereka lakukan dengan anak mereka. Sebagian berharap dengan mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, anak mereka bisa berubah.

Memang, kita tidak berharap bahwa anak-anak remaja bisa berubah dalam sekejab setelah pelatihan beberapa hari. Namun, optimistisnya, setelah dibekali dengan berbagai metode dan cara, para remaja menjadi lebih siap memahami dirinya dan berhadapan dengan dunia luar.

Itulah sebabnya, dalam berbagai pelatihan dan workshop kecerdasan emosional bagi para remaja, penekanannya dilakukan pada empat tangga yang penting untuk membangun kecerdasan emosional para remaja dengan model EQM yang saya kembangkan kita yakni Awareness, Acceptance, Affection, dan Affirmation.

Emotional awareness

Sebenarnya, saat ini ada banyak sekali alat-alat assessment psikologis yang bisa dipakai sebagai alat bantu potret diri untuk para remaja kita. Dari hasil potret ini, dapat dibicarakan mengenai perilaku serta kebiasaan mereka.

Seperti pada kasus pertama yang digambarkan di atas, bisa jadi anak tersebut sebenarnya tergolong introvert dan sebenarnya tidaklah keliru amat kalau bisa diarahkan.

Toh Bill Gates yang terkenal pun, dikatakan awalnya adalah pribadi yang intorvert. Hanya saja, para remaja ini perlu didampingi untuk mengarahkan perilaku mereka sehingga tidak berkembang menjadi antisosial.

Perlu seseorang dewasa yang bisa menjadi pegangannya, meski awalnya adalah penolakan dari remaja itu. Misalkan saja seorang bapak bahwa "Kini, anak remaja saya seolah-olah tidak membutuhkan saya lagi". Akan tetapi kenyataannya justru menunjukkan bahwa anaknya sebenarnya berpendapat lain. "Kami memang ingin independen, tapi kami sadar, justru kami haus untuk didampingi".

Pendampingan yang juga penting di bagian awareness ini adalah orang tua mengajarkan mengenai pilihan serta konsekuensinya. Para remaja perlu belajar mengenai prinsip 'mengangkat ujung tongkat yang lain'.

Prinsip ini pernah diucapkan oleh Stephen R. Covey bahwa, "Kita bisa memilih mau mengangkat tongkat yang mana pun. Namun setelah memilihnya, kita tidak bisa mencegah bahwa selalu ada ujung lain dari tongkat yang akan ikut terangkat".

Bahasa sederhananya, kita bisa membuat pilihan, tetapi setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Seperti pada kasus kita, si remaja bisa memilih untuk tidak membayarkan uang sekolahnya, tetapi akhirnya dia akan berhadapan dengan suatu konsekuensi.

Konsekuensinya adalah ketahuan dan mungkin dihukum berat. Begitu pun pada saat remaja ditawarkan pada pilihan seperti alkohol, narkoba, dll. Mereka perlu dibekali bahwa mereka memiliki kekuatan pada saat 'memilih', tetapi mereka tidak bisa lagi mencegah adanya konsekuensi pada saat pilihan sudah dijatuhkan. Inilah hukum alam. Celakanya, banyak rekan muda kita ini terlalu berpikir 'kesenangan sesaat' dan lupa akan adanya konsekuensi-konsekuensi.

Emotional acceptance

Krisis identitas terbesar pada kaum remaja adalah tatkala mereka merasa kurang oke dengan dirinya dan mulai banyak membanding-bandingkan dengan orang lain. Itulah sebabnya, dikatakan oleh hasil survei bahwa kebanyakan fan yang menggandrungi pemusik atau artis/aktor biasanya berada pada usia-usia ini.

Intinya, di tahapan ini banyak kaum muda yang setelah menyadari hidupnya, justru merasa kurang oke. Mereka mengadopsi identitas. Bayangkan kalau identitas yang diadopsi ini keliru! Itulah sebabnya, di tahapan ini pelajaran terpenting bagi remaja adalah berdamai serta menerima diri mereka.

Pelajaran self esteem (harga diri) adalah dasar dari membangun potensi mereka. Sebenarnya, kalau self esteem mereka bisa dipupuk sejak awal, potensi mereka juga akan keluar lebih cepat!

Emotional affection

Pelajaran menjadi mandiri, memang penting bagi para remaja kita. Namun, terlalu mandiri juga akan menjerumuskan mereka menjadi individu yang terlalu egois serta tidak peduli dengan orang lain.

Karena itulah, semakin cepat mereka menyadari pentingnya networking, semakin cepat remaja ini bisa membangun pondasi interpersonal skills yang akan berguna kelak pada masa depannya.

Membangun 'affection' adalah penting dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain. Sebenarnya, di sinilah dasar-dasar kepemimpinan tehadap orang lain dipupuk sejak dini.

Pelajaran bergesekan, dan konflik dengan orang lain adalah pelajaran-pelajaran penting yang berguna bagi para remaja. Saat mereka mampu mengatasi konflik, masalah dengan orang lain, akan memupuk keyakinan diri yang semakin tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain.

Seorang remaja 'tercerahkan' menggambarkan dengan bagus dalam diarynya tatkala ia mengatakan, "Awalnya aku merasa tidak terlalu butuh orang lain. Aku pikir aku bisa usahakan semua sendirian. Tapi, aku ternyata bisa belajar banyak dari teman-temanku, terutama bisa saling tukar informasi. Sebenarnya, asyik juga punya teman yang sejalan. Tidak semua teman menjerumuskan kok, asal bisa pilih teman".

Emotional affirmation

Pada bagian terakhir ini, remaja belajar untuk bisa membangun dan menyemangati dirinya tatkala jatuh, berproblem dan gagal. Sangatlah penting bahwa remaja berlatih untuk mengarahkan energi kehidupan yang positif. Jika tidak, energi tersebut bisa dipakai untuk merugikan dirinya sendiri ataupun dengan merugikan orang lain.

Berbagai kasus penembakan oleh remaja di Amerika adalah contoh pengarahan energi yang keliru. Sebenarnya, untuk pengarahan energi ini dimulai dari hal yang sederhana yakni self talk yang terjadi pada diri internal remaja ini saat mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Di sinilah, pentingnya kaum muda kita didampingi untuk belajar membuat self talk alternatif yang positif!

Akhirnya, sebagai orangtua yang sibuk, mestinya kita semakin menyadari bahwa kenakalan para remaja kita sebenarnya adalah upaya teriakan minta tolong dari remaja untuk didampingi!

bisnis.com