Senin, 13 Desember 2010

Impian Kesempurnaan

PUNCAK adalah impian kesempurnaan. Karena di puncak bisa melihat kebawah dengan lebih lapang dan sudut pandang yang luas. Berada diatas adalah keunggulan.
Menguasai langit dan naik hingga langit tertinggi adalah sebuah kenikmatan
be well,
Dwika-ExecuTrain





Menuju Menjaga Dan Menikmati Sukses
**harian Waspada, ekonomi dan bisnis

Di atas gunung ada awan...

Di atas awan ada langit...
Di atas langit masih ada langit yang lain...

PUNCAK adalah impian kesempurnaan. Karena di puncak bisa melihat kebawah dengan lebih lapang dan sudut pandang yang luas. Berada diatas adalah keunggulan. Naik ke puncak gunung, terbang keatas awan, menguasai langit dan naik hingga langit tertinggi adalah sebuah kenikmatan.
Perlombaan untuk naik keatas adalah kompetisi yang sudah menjadi kodrat keberadaan manusia. Proses pemilihan dan dipilih untuk bisa bertahan atau kalah sudah terjadi jauh hari sebelum manusia dilahirkan. Ada yang berjalan didepan. Selalu saja ada yang mendahului.
Kompetisi ini berlaku juga untuk pada lembaga bisnis maupun produknya. Siapa saja yang lengah, siapa saja yang istirahat terlalu lama, maka orang atau produk lain akan melesat naik dan menggantikannya.

Kejayaan Nokia –merek handphone-- selama 10 tahun terakhir menyentuh indra pengamatan saya. Ia begitu mempesona, sederhana, ramah pemakaiannya, memiliki banyak pilihan dan bahkan muncul menjadi Standard gengsi bagi pemakainya. Bagaimana ia bisa melesat jauh keatas dan tetap mapan bertahan diantara gempuran-gempuran kencang dari para pesaingnya?
Dalam sebuah presentasi yang memukau Keith Pardy & Alastair Curtis menggambarkan bagaimana merek tersebut diatas selalu berusaha berinovasi dan berusaha untuk menguasai masa depan. Bagi merek ini, masa depan adalah sesuatu yang harus diperhatikan karena mereka menyadari bahwa mereka akan menbuang sebagian hidupnya dimasa itu.
Bagaimana Nokia bisa melesat naik dan bertahan sejauh ini?

The uncomplicated desire to connect
Yup... bukankah itu yang semua orang mau? Berhubungan dan saling berkomunikasi dengan cara yang sederhana dan tidak ruet? Apalah arti teknologi canggih tapi tidak mudah dimanfaatkan? Lihatlah betapa produk dari merek ini benar-benar sederhana, mudah dioperasikan bahkan oleh orang-orang yang tidak menguasai bahasa petunjuk yang ada.
Itulah awal dari terobosan sukses Nokia. Saya ingat di tahun 2006 Nokia menduduki peringkat ke 6 dalam urutan Best Global Brand 2006 versi Business Week. Sebuah penilaian rangking dari nilai merek. Dibawah Coca Cola, IBM, GE microsoft, dan Intel.
Memang Nokia menduduki urutan ke 6, tetapi nilai merek Nokia naik 14% jauh melesat diatas yang lain, termasuk Coca-Cola yang terjerembab turun -1%.
Saya pernah membahas sudut ini. Bahwa sangat penting untuk menciptakan produk tetapi tetap ramah dengan pengguna-nya. Manusia modern adalah manusia pemalas. Mau sederhana dan sedikit berfikir, sedikit bergerak, dan serba sedikit mengeluarkan energi.

Observasi dan mendesign
Itulah langkah strategi sederhana yang diakui oleh Nokia. Memang terdengar sederhana, tetapi jelas melaksanakannya memerlukan keseriusan dan konsistensi. Mereka secara tegas selalu ingin mengetahui apa-apa saja yang bernilai dan penting dalam kehidupan manusia, maka observasi adalah langkah bijak untuk mencapainya.
Observasi dan mendesign, begitulah seterusnya tanpa henti. Lihatlah bahwa Nokia memiliki banyak sekali versi produk dengan berbagai seri untuk membedakannya. Kini orang-orang langsung dengan mudah memilih sesuai dengan kebutuhannya sesuai seri yang dikeluarkannya.
Observasi yang dilakukan sangat intens. Menyangkut kebiasaan, gaya hidup bahkan sampai ukuran rata-rata jari-jari manusia juga tidak luput dari perhatiannya. Tidak salah jika Nokia memenangkan perhatian banyak orang. Konon ada studi yang menyatakan bahwa Nokia mendapatkan simpati positif sebanyak 4 banding 1. Artinya dari 5 orang akan ada 4 orang yang menyenanginya. (Global Brand Tracking, di Korea dan Jepang).

Goal yang jelas
Sukses Nokia, jelas bermula dari penetapan tujuan yang jelas. Mereka selalu ingin menciptakan produk yang bisa membuat orang jatuh cinta. Ini membuat design Nokia selalu menjadi jawara kelas dunia dalam inovasi rancang bangun, kreativitas dan budaya-nya. Mereka membekali dirinya dengan orang-orang kreatif dari berbagai latar belakang, menciptakan suasana kreatif dan dinamis di lingkungan kerjanya.
Ini mengingatkan saya akan sebuah kata-kata bijak dari Seneca If one does not know to which port one is sailing, no wind is favourable.

Kaidah inovasi Nokia
Observasi yang tiada henti mengantarkan Nokia kepada konsep pembaharuan yang tiada henti. Kadang kita kaget, betapa cepat mereka berubah dan meluncurkan produk-produk selalu baru dan inovatif.
Dalam berinovasi, ada beberapa kaidah yang mereka percayai; pertama Never Stop Exploring, penggalian yang tiada henti. Lalu Dare Tobe Different, berani untuk menjadi berbeda. Berikutnya Take More Risk, tantang lebih banyak resiko dan Rapid Prototyping, menciptakan rancang bangun yang meluncur deras, cepat berganti lalu diakhiri dengan become a champion, menjadi juara.

Manjaga Posisi
Setiap hari kita mencapai puncak-puncak capaian hidup. Produk dan bisnis kita juga menapaki tahap-tahap sukses itu. Lalu bagaimana kita bisa menjaga sukses itu dan meningkatkannya hingga mencapai puncak sukses lain diatasnya?
Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, " Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail" (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).
Nokia bertahan dan terus Berjaya karena mereka mendengar, melihat dan merasakan dengan observasi yang tiada henti. Observasi dan mendesign, seterusnya tanpa henti.

Di atas gunung ada awan...
Di atas awan ada langit...
Di atas langit masih ada langit yang lain...
Naiklah ke puncak gunung, terbanglah keatas awan, kuasailah langit dan lompatlah hingga langit tertinggi karena itu adalah sebuah kenikmatan. Teruslah berjalan hingga menguasai langit-langitmu sendiri.
Tulisan ini sudah diterbitkan di harian waspada, pada halaman ekonomi dan bisnis, terbitan tgl 16 juni 2008
(studi kasus Nokia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar